<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Bhartoyo's Weblog</title>
	<atom:link href="http://bhartoyo.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://bhartoyo.wordpress.com</link>
	<description>Just another WordPress.com weblog</description>
	<lastBuildDate>Sun, 22 Feb 2009 01:21:17 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='bhartoyo.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Bhartoyo's Weblog</title>
		<link>http://bhartoyo.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://bhartoyo.wordpress.com/osd.xml" title="Bhartoyo&#039;s Weblog" />
	<atom:link rel='hub' href='http://bhartoyo.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Pentingnya Membersihkan Jiwa</title>
		<link>http://bhartoyo.wordpress.com/2008/09/05/pentingnya-membersihkan-jiwa/</link>
		<comments>http://bhartoyo.wordpress.com/2008/09/05/pentingnya-membersihkan-jiwa/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 05 Sep 2008 08:10:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bhartoyo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[dirinya]]></category>
		<category><![CDATA[dosa]]></category>
		<category><![CDATA[raja]]></category>
		<category><![CDATA[sendiri]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bhartoyo.wordpress.com/?p=44</guid>
		<description><![CDATA[Barang siapa yang mengerjakan dosa, maka sesungguhnya ia mengerjakan untuk dirinya sendiri. Dan Allah maha mengetahui lagi Maha Bijaksana. (QS An Nisa : 111). Karena hati Laksana raja, sangat rentan terhadap penyakit yang terus mengintainya. Maka menjaga hati dari setiap penyakit ádalah sesuatu yang Sangat penting. Dan penyakit yang Sangat berbahaya bagi manusia ádalah penyakit [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bhartoyo.wordpress.com&amp;blog=3957306&amp;post=44&amp;subd=bhartoyo&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:x-small;"><span style="font-family:Verdana;">Barang siapa yang mengerjakan dosa, maka sesungguhnya ia mengerjakan untuk dirinya sendiri. </span><span style="font-family:Verdana;">Dan Allah maha mengetahui lagi Maha Bijaksana. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><strong><span style="font-family:Verdana;"><span style="font-size:x-small;">(QS An Nisa : 111).</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-family:Verdana;"><span style="font-size:x-small;">Karena hati Laksana raja, sangat rentan terhadap penyakit yang terus mengintainya. Maka menjaga hati dari setiap penyakit ádalah sesuatu yang Sangat penting.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-family:Verdana;"><span style="font-size:x-small;">Dan penyakit yang Sangat berbahaya bagi manusia ádalah penyakit hati.<span id="more-44"></span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-family:Verdana;"><span style="font-size:x-small;">Dalam surat Al-Muthaffifin ayat 14, Al-Qur’an menyatakan, yang artinya, </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-family:Verdana;"><span style="font-size:x-small;">“Sekali-kali tidak demikian, sebenarnya apa yang selalu mereka kerjakan itu menutupi hatinya”. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-family:Verdana;"><span style="font-size:x-small;">Allah SWT menyampaikan hal ini setelah menceritakan sekelompok manusia kafir yang enggan beriman dengan hari kiamat. Keengganan itu disebabkan karena mereka melampaui batas dalam melakukan yang haram dan berlebihan dalam hal-hal yang mubah.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-family:Verdana;"><span style="font-size:x-small;">Serta berdosa dalam ucapannya, bila berbicara ia berdusta, bila berjanji ingkar dan bila bersengketa berbuat curang. Sehingga Allah SWT menutup hatinya karena perbuatannya itu. Demikian pernyataan Ibnu Katsir dalam tafsirnya.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:x-small;"><span style="font-family:Verdana;">Rasulullah SAW bersabda : “Seorang hamba bila berbuat dosa, timbullah satu titik hitam dalam hatinya. </span><span style="font-family:Verdana;">Bila dia bertaubat dari perbuatan itu, hatinya akan kembali bersih. </span><span style="font-family:Verdana;">Namun bila menambah perbuatan (dosa) nya, bertambah pula titik hitam tadi.”.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-family:Verdana;"><span style="font-size:x-small;">Maksudnya, bahwa efek dari kemaksiatan adalah mata hati<span>  </span>menjadi tertutup, sehingga tidak dapat melihat kebenaran.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-family:Verdana;"><span style="font-size:x-small;">Untuk di akhirat kelak dia akan terhalang, tidak dapat melihat kenikmatan yang agung, yaitu melihat Allah SWT. Dalam Al-qur’an Allah SWT menyatakan, yang artinya: “Sekali-kali tidak, sesungguhnya mereka dihari itu (kiamat) benar-benar terhalang dari Tuhan semesta<strong>”. (QS Al-Muthaffifin:15).</strong></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-family:Verdana;"><span style="font-size:x-small;">Imam Syafi’i menjadikan ayat ini sebagai dalil bahwa orang-orang yang beriman pada hari itu (kiamat) akan melihat Tuhan mereka yang Maha Gagah dan Maha Perkasa. Hal ini ditunjukkan oleh makna yang tersurat dari firman Allah SWT yang artinya, “ Wajah-wajah pada hari itu berseri-seri. Kepada Tuhannyalah mereka melihat”. <strong>(QS Al-Qiyamah:22-23)”.</strong></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-family:Verdana;"><span style="font-size:x-small;">Ibnul Qoyyim al-Jauziyah menyatakan dalam al-Jawabu al-Kafi, bahwa orang yang bergelimang dengan dosa akan berdampak: </span></span></p>
<ol style="margin-top:0;" type="1">
<li class="MsoNormal"><span style="font-family:Verdana;"><span style="font-size:x-small;">Terhalang dari ilmu Allah, karena ilmu itu ádalah cahaya, sedang kemaksiatan itu memadamkannya.</span></span></li>
<li class="MsoNormal"><span style="font-family:Verdana;"><span style="font-size:x-small;">Kemaksiatan dan perbuatan keji akan menjatuhkan seseorang dari manusia yang lain.</span></span></li>
<li class="MsoNormal"><span style="font-family:Verdana;"><span style="font-size:x-small;">Jika seseorang sudah tidak menganggap keburukan itu dosa, maka terukirlah dalam hatinya bahwa kejahatan itu sebagai suatu hal yang biasa yang dia senangi.</span></span></li>
<li class="MsoNormal"><span style="font-family:Verdana;"><span style="font-size:x-small;">Kemaksiatan akan berakibat kehinaan.</span></span></li>
<li class="MsoNormal"><span style="font-family:Verdana;"><span style="font-size:x-small;">Seseorang tidak akan mendapatkan manisnya iman, ketaatan dan ibadahnya.</span></span></li>
<li class="MsoNormal"><span style="font-family:Verdana;"><span style="font-size:x-small;">Kemaksiatan akan melahirkan kemaksiatan yang lain.</span></span></li>
<li class="MsoNormal"><span style="font-family:Verdana;"><span style="font-size:x-small;">Allah akan melupakan dia dan membiarkannya untuk bersenang-senang dengan hawa nafsu dan setannya dan malaikat tidak akan mendekatinya serta tidak pula mendoakannya.</span></span></li>
<li class="MsoNormal"><span style="font-family:Verdana;"><span style="font-size:x-small;">Sesungguhnya kemaksiatan itu akan membuat mata hatinya menjadi buta.</span></span></li>
<li class="MsoNormal"><span style="font-family:Verdana;"><span style="font-size:x-small;">Akan hilangnya keberkahan umur.</span></span></li>
<li class="MsoNormal"><span style="font-family:Verdana;"><span style="font-size:x-small;">Sesungguhnya kemaksiatan memberikan suatu tanda hitam di wajah dan kelam di hati, serta kurang mendapat rezki.</span></span></li>
</ol>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-family:Verdana;"><span style="font-size:x-small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-family:Verdana;"><span style="font-size:x-small;">Allah mewajibkan manusia untuk Puasa Ramadhan. Diperintahkan kepada manusia mencapai derajat ketakwaan. Puasa Ramadhan dapat menjadikan manusia bersih jiwanya, karena telah terlatih menahan nafsu, sehingga dapat dipakai sarana membersihkan jiwa atau hati.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-family:Verdana;"><span style="font-size:x-small;"> </span></span></p>
<p><span style="font-size:8pt;font-family:Verdana;">Sumber: Dra S Hafsah Budi A SPSI MSi, Dosen Fakultas Psikologi </span><span style="font-size:8pt;font-family:Verdana;">UST</span><span style="font-size:8pt;font-family:Verdana;">).</span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/bhartoyo.wordpress.com/44/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/bhartoyo.wordpress.com/44/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/bhartoyo.wordpress.com/44/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/bhartoyo.wordpress.com/44/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/bhartoyo.wordpress.com/44/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/bhartoyo.wordpress.com/44/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/bhartoyo.wordpress.com/44/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/bhartoyo.wordpress.com/44/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/bhartoyo.wordpress.com/44/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/bhartoyo.wordpress.com/44/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/bhartoyo.wordpress.com/44/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/bhartoyo.wordpress.com/44/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/bhartoyo.wordpress.com/44/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/bhartoyo.wordpress.com/44/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/bhartoyo.wordpress.com/44/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/bhartoyo.wordpress.com/44/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bhartoyo.wordpress.com&amp;blog=3957306&amp;post=44&amp;subd=bhartoyo&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bhartoyo.wordpress.com/2008/09/05/pentingnya-membersihkan-jiwa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a421482cf07d4734eb9b4e6b455cf248?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">bhartoyo</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Hakikat Insan Kamil</title>
		<link>http://bhartoyo.wordpress.com/2008/08/15/hakikat-insan-kamil/</link>
		<comments>http://bhartoyo.wordpress.com/2008/08/15/hakikat-insan-kamil/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 15 Aug 2008 03:37:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bhartoyo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Relegion]]></category>
		<category><![CDATA[Hakikat]]></category>
		<category><![CDATA[hamba-Nya]]></category>
		<category><![CDATA[ilmu]]></category>
		<category><![CDATA[Insan Kamil]]></category>
		<category><![CDATA[makrifat]]></category>
		<category><![CDATA[Muhammad]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bhartoyo.wordpress.com/?p=41</guid>
		<description><![CDATA[Si hamba menyaksikan bahwa Insan Kamil adalah pertemuan di antara ketuhanan dan kehambaan. Pada Insan Kamil berkumpul pengetahuan tentang Tuhan dan pengetahuan tentang makhluk Tuhan. Insan Kamil mengenal Tuhan dalam aspek tanzih dan tasybih. Insan Kamil memperoleh maklumat Hakikat Muhammad secara lengkap dan sempurna. Insan Kamil yang memiliki ilmu dan makrifat yang sempurna. Insan Kamil [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bhartoyo.wordpress.com&amp;blog=3957306&amp;post=41&amp;subd=bhartoyo&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="color:#333333;" lang="ES-TRAD"><span style="font-size:x-small;font-family:Arial;">Si hamba menyaksikan bahwa Insan Kamil adalah pertemuan di antara ketuhanan dan kehambaan. Pada Insan Kamil berkumpul pengetahuan tentang Tuhan dan pengetahuan tentang makhluk Tuhan. Insan Kamil mengenal Tuhan dalam aspek tanzih dan tasybih. Insan Kamil memperoleh maklumat Hakikat Muhammad secara lengkap dan sempurna. Insan Kamil yang memiliki ilmu dan makrifat yang sempurna. Insan Kamil yang mempunyai pengenalan yang sempurna tentang Tuhan. Insan Kamil juga mempunyai pengetahuan yang sempurna tentang apa yang Tuhan sampaikan kepada hamba-hamba-Nya.<span id="more-41"></span><br />
</span></span><span style="color:#333333;"><span style="font-size:x-small;font-family:Arial;">Insan Kamil juga mempunyai maklumat Hakikat Insan secara sempurna. Oleh kerana Hakikat Insan mengumpulkan maklumat yang lengkap tentang manusia dan alam makhluk sekaliannya, maka Insan Kamil mempunyai pengetahuan yang lengkap tentang manusia dan alam makhluk sekaliannya. Seluruh alam semesta ‘terkandung’ dalam Insan Kamil. Hati si hamba yang terbuka kepada suasana Hakikat Insan Kamil menyaksikan seluruh alam semesta berada dalam hatinya. </span></span><span style="font-size:x-small;"><span style="font-family:Arial;"><span style="color:#333333;" lang="ES-TRAD">Si hamba menyaksikan pengetahuan ketuhanan datang secara langsung kepada hatinya. </span><span style="font-size:12pt;color:black;font-family:&quot;" lang="ES-TRAD"></span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:x-small;"><span style="font-family:Arial;"><span style="color:#333333;" lang="ES-TRAD">Pembukaan kepada Hakikat Insan Kamil membuat hati si hamba menyaksikan alam semesta disempadani oleh dirinya dan pada masa yang sama dia menyaksikan ‘Allah’ bersemayam dalam hatinya. Inilah peringkat yang paling tinggi bahayanya dalam semua peringkat pengalaman kerohanian. Ketuhanan dan kehambaan muncul pada hati yang sama, pada perasaan yang sama dan pada masa yang sama. Hanya kehambaan yang sentiasa membayanginya meneguhkan tapak kakinya berpijak pada jalan yang benar. Kehambaan pada peringkat ini sangat rapuh, mudah saja menjadi hancur lebur. Jika hal yang demikian terjadi hati si hamba tidak lagi melihat perbedaan di antara hamba dengan Tuhan, dirinya dengan Tuhan. Keadaan seperti ini tidak muncul sewaktu menyaksikan Hakikat-hakikat yang lain termasuklah Hakikat Muhammad kerana pada ketika itu makhluk dan dirinya tidak ada dalam perhatian dan kesadarannya. Pada tahap mengalami suasana Hakikat Insan Kamil ini kesadar! an dan perhatian kepada diri dan makhluk baru saja muncul kembali, belum begitu kuat dan berpengaruh. Kesadaran dan perhatian tersebut baru pada tahap seumpama bayang-bayang yang belum melekat benar pada hati. Hakikat Insan Kamil adalah umpama stesen bebas bagi hati. Ia boleh menjadi Tuhan dan hamba pada masa yang sama. Ia juga boleh menjadi nabi dan wali. Ia juga boleh menjadi malaikat.Jika seseorang yang baru saja kembali sedikit kesadarannya terhadap kewujudan dirinya larut dalam Hakikat Insan Kamil, hatinya akan mengalami apa yang biasa disebut oleh orang sufi sebagai bersatu dengan Tuhan. Rasa bersatu dengan Tuhan berbeda daripada mengalami suasana keesaan yang berlaku Pada ketika itu keesaan dialami dalam suasana tiada kesadaran terhadap diri sendiri. Si hamba hanya menyaksikan Allah s.w.t semata-mata, tidak pada dirinya dan makhluk lainnya. Dia hanya menyaksikan satu wujud yaitu wujud Allah s.w.t, wujud yang lain tidak ada dalam perhatiannya. Oleh yang demikian tidak timbul isu bersatu dengan Tuhan pada peringkat itu. Pada peringkat Hakikat Insan Kamil pula wujud Allah s.w.t dan wujud dirinya nyata dalam kesedarannya dan mungkin dia tidak dapat membedakan yang satu dengan yang lain. Dalam keadaan demikian dia mungkin menyaksikan Allah s.w.t sebagai Haq (Yang Hakiki) dan juga khalq (makhluk sebag! ai bayangan Yang Hakiki). Dia mungkin merasakan dirinya sebagai Tuhan dan hamba Tuhan, yang sama dalam aspek yang berbeda. Dia mungkin melihat sifat-sifat yang ada pada dirinya sebagai sifat Tuhan dan dia menjadi pendhahir sifat Tuhan secara sempurna. Dia mungkin merasakan pada wujudnya yang satu bertemu Wujud Tuhan dengan wujud alam semesta. Dia mungkin menyaksikan seluruh alam semesta seumpama bola kecil terkandung di dalam hatinya. Dia mungkin melihat badannya sebagai Arasy, rohnya sebagai Roh Muhammad dan zatnya sebagai Zat Tuhan. Dia mungkin juga melihat ilmunya sebagai Ilmu Tuhan dan bakat dirinya sebagai malaikat.</span><span style="font-size:7.5pt;color:black;font-family:Verdana;" lang="ES-TRAD"></span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="color:#333333;font-family:Verdana;" lang="ES-TRAD"><span style="font-size:x-small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:x-small;"><span style="font-family:Arial;"><span style="color:#333333;" lang="ES-TRAD">Bila dikuasai oleh rasa kelarutan dalam Hakikat Insan Kamil dia mungkin melihat dirinya berada pada satu falak di atas daripada falak yang ada makhluk yang lain. Malaikat, jin dan yang lain-lain mungkin dilihatnya berada di bawah daripada falak dirinya. Dia mungkin melihat bakat dirinya bergerak melalui makhluk yang lain. Jika dia berada dalam satu kumpulan pekerja dia mungkin melihat bakat dan daya upayanya berada pada setiap pekerja tersebut.</span><span style="font-size:7.5pt;color:black;font-family:Verdana;" lang="ES-TRAD"></span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:x-small;"><span style="color:#333333;" lang="ES-TRAD"><span style="font-family:Arial;">Suasana hati yang bergabung dengan Hakikat Insan Kamil mungkin membuat seseorang melaungkan “Ana al-Haq!</span></span><span style="color:#333333;font-family:&quot;">‿</span><span style="color:#333333;" lang="ES-TRAD"><span style="font-family:Arial;">. Ucapan “Ana al-Haq</span></span><span style="color:#333333;font-family:&quot;">‿</span><span style="color:#333333;" lang="ES-TRAD"><span style="font-family:Arial;"> pada peringkat ini berbeda daripada ucapan Ana al-Haq , dahulu si hamba semata-mata menjadi alat dan Tuhan Pengguna alat. Si hamba tidak melihat ucapan tersebut sebagai ucapannya. Dia menyaksikan Kalam Tuhan yang keluar daripadanya. Pada peringkat Hakikat Insan Kamil pula ucapan “Ana al-Haq</span></span><span style="color:#333333;font-family:&quot;">‿</span><span style="font-size:12pt;color:black;font-family:&quot;" lang="ES-TRAD"></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:x-small;"><span style="font-family:Arial;"><span style="color:#333333;" lang="ES-TRAD">dilafazkan dalam keadaan ada kesadaran diri. Kesadaran tersebut membuatnya melihat ucapan itu sebagai ucapan Tuhan dan juga ucapan dirinya yang bersatu dengan Tuhan. Apa yang dia ucapkan itulah yang Tuhan ucapkan, dan apa yang Tuhan ucapkan itulah yang dia ucapkan. Beginilah keadaan yang berlaku kepada orang yang larut dalam Insan Kamil.Ramai orang menyangkakan Insan Kamil adalah penghabisan jalan. Mereka jadikan Insan Kamil sebagai makam mereka.</span><span style="font-size:7.5pt;color:black;font-family:Verdana;" lang="ES-TRAD"></span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="color:#333333;font-family:Verdana;" lang="ES-TRAD"><span style="font-size:x-small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="color:#333333;" lang="ES-TRAD"><span style="font-size:x-small;font-family:Arial;">Semua keturunan Adam a.s dinamakan manusia. Dalam bangsa manusia itu ada golongan yang sempurna dinamakan manusia yang sempurna. Dalam golongan manusia yang sempurna itu ada kumpulan yang menjadi Nabi dan Rasul. Bangsa manusia secara keseluruhannya dikuasai oleh Hakikat Insan. Golongan manusia yang sempurna itu pula dikuasai oleh Hakikat Insan Kamil. Dalam golongan manusia yang sempurna itu, yang menjadi nabi dan rasul dikuasai pula oleh Hakikat Muhammad.Hakikat-hakikat, termasuklah Insan Kamil, bukanlah makhluk yang ada dalam alam. Hakikat adalah urusan Tuhan. Insan Kamil adalah urusan Tuhan yang menguasai satu kumpulan manusia yang sempurna kehambaannya kepada Allah s.w.t. Insan Kamil yang asli, yang ada pada sisi Tuhan tidak berupa, tidak berbentuk, tidak berwarna, tidak menempati ruang dan zaman dan juga tidak bernama. Manusia-manusia sempurna yang muncul di atas muka bumi bolehlah dikatakan salinan lengkap kepada Insan Kamil yang asli. Manusia yang paling sempurna, menjadi salinan Insan Kamil yang paling sempurna menerima penguasaan sepenuhnya daripada Hakikat Muhammad dan beliau adalah Nabi Muhammad s.a.w. Manusia-manusia sempurna yang lain, walaupun sempurna tetapi kesempurnaan mereka tidak mencapai tahap kesempurnaan Nabi Muhammad s.a.w. Mereka tidak menerima penguasaan Hakikat Muhammad secara lengkap, selengkap Nabi Muhammad s.a.w. Oleh itu hanya Nabi Muhammad ! s.a.w saja yang bernama Muhammad, yang lain bernama Ibrahim, Musa, Isa, Nuh dan lain-lain. Manusia sempurna yang lain tidak mengaku diri mereka sebagai Muhammad walaupun mereka juga menerima maklumat daripada Hakikat Muhammad. Sejak Nabi Adam a.s sampailah kepada Nabi Isa a.s tidak ada seorang Nabi pun yang mengaku menjadi Muhammad. Kumpulan manusia yang sah kesempurnaan mereka tidak mengaku menjadi Muhammad atau bersekutu dengan Muhammad. Jika ada orang yang mengaku menjadi Muhammad atau bersekutu dengan Muhammad, baik secara zahir atau secara batin, maka nyatalah mereka telah keliru dalam memahami hakikat.</span></span><span style="font-size:7.5pt;color:black;font-family:Verdana;" lang="ES-TRAD"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:x-small;"><span style="font-family:Arial;"><span style="color:#333333;" lang="ES-TRAD">Salinan Insan Kamil yang paling sempurna dalam kumpulan Nabi-nabi adalah Nabi Muhammad s.a.w, penutup Kenabian. Salinan Insan Kamil yang sempurna dalam kumpulan wali-wali adalah </span><span style="color:blue;" lang="ES-TRAD">Muhammad Imam Mahadi, penutup kewalian. Muhammad Imam Mahadi tinggal di dalam dunia dan menjalankan tugas yang diamanahkan kepadanya oleh Allah s.w.t. Bila tugas tersebut selesai beliau kembali ke rahmatullah.</span><span style="color:#333333;" lang="ES-TRAD"> Pada ketika itu salinan Insan Kamil tidak akan muncul lagi ke dunia. Bila salinan Insan Kamil tidak ada lagi di dalam dunia maka tertutuplah ilmu ketuhanan. Tidak ada lagi manusia yang mengenal Allah s.w.t. Pada ketika itu berlakulah kiamat besar. </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="color:#333333;" lang="ES-TRAD"><span style="font-size:x-small;"><span style="font-family:Arial;">Ada beberapa perkara lagi perlu diketahui berhubung dengan daerah Insan Kamil yang selalu diperkatakan apabila bercakap mengenainya. Insan Kamil dikatakan bersemayam di dalam Kaabatullah. Kaabatullah selalu disebut dalam memperkatakan tentang hakikat. Ada orang mengatakan dia bersembahyang menghadap Kaabatullah. Ada pula yang mengatakan dia bersembahyang di dalam Kaabatullah. Yang lain pula mengatakan dia sembahyang dengan ketiadaan Kaabatullah. Ada juga orang mengatakan dia menemui Rasulullah s.a.w di dalam Kaabatullah. Berbagai-bagai lagi keadaan Kaabatullah yang diceritakan orang dalam menggambarkan suasana hakikat.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:x-small;"><span style="font-family:Arial;"><span style="color:#333333;" lang="ES-TRAD">Kaabatullah yang dikatakan seperti cerita di atas merupakan suasana simbolik bagi menggambarkan keadaan hubungan hati dengan Allah s.w.t. Umat Islam bersembahyang menghadap Kaabatullah bukan bermakna mereka menyembah Kaabatullah dan bukan juga Allah s.w.t berada dalam Kaabatullah. Allah s.w.t memilih Kaabatullah sebagai tempat yang boleh dirasakan kehadiran-Nya dengan kuat. Jadi, </span><span style="color:blue;" lang="ES-TRAD">Kaabatullah dihubungkan dengan Hadrat Ilahi</span><span style="color:#333333;" lang="ES-TRAD">. Berhadap ke Kaabatullah bermakna menghadap kepada Hadrat-Nya.Di dalam suasana hakikat, Kaabatullah menjadi misal bagi suasana ketuhanan. Bila dikatakan Insan Kami bersemayam di dalam Kaabatullah ia bermaksud Insan Kamil adalah suasana ketuhanan, berada dalam Ilmu Tuhan. Orang yang bersembahyang di dalam kesedaran melihat Kaabatullah berada di hadapannya. Orang yang di dalam zauk merasakan berada di dalam Kaabatullah. Orang yang baqa dengan Allah s.w.t tidak melihat kepada Kaabatullah. Orang yang ‘memasuki’ Ilmu Allah, mengenali suasana Hakikat Muhammad dan mengambil ilmu daripada sumber tersebut, menggambarkannya sebagai berjumpa dengan Rasulullah s.a.w di dalam Kaabatullah dan menerima pengajaran daripada baginda s.a.w. Pengalaman-pengalaman yang disebut di atas merupakan pengalaman dalam &#8216;misal kepada hakikat’.</span><span style="font-size:12pt;color:black;font-family:&quot;" lang="ES-TRAD"></span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:x-small;"><span style="font-family:Arial;"><span style="color:#333333;" lang="ES-TRAD">Penyaksian terhadap rupa, bentuk, cahaya dan warna adalah penyaksian kepada misal bagi hakikat-hakikat. Apa yang disaksikan itu menjadi cermin yang membalikkan kefahaman tentang hakikat yang tidak boleh disaksikan. Rasulullah s.a.w melihat pada malam Israk dan Mikraj, bentuk misal kesenangan dan kemewahan dunia sebagai perempuan cantik dan umur dunia yang sudah lanjut sebagai perempuan tua. Kedua-duanya menceritakan tentang hakikat dunia tetapi berlainan rupa bagi menceritakan maksud yang berbeda.</span><span style="font-size:12pt;color:black;font-family:&quot;" lang="ES-TRAD"></span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:x-small;"><span style="font-family:Arial;"><span style="color:#333333;" lang="ES-TRAD">Hakikat boleh diibaratkan sebagai cahaya dan cermin sebagai Alam Misal. Jika benda nyata diletakkan di hadapan cermin dan cahaya dipancarkan kepadanya, akan kelihatanlah gambaran benda nyata itu di dalam cermin. Gambaran yang kelihatan di dalam cermin itu menyatakan bahawa pada benda nyata itu ada pancaran cahaya. Cahaya disaksikan dalam bentuk benda-benda nyata. Bentuk benda-benda nyata itu menjadi misal kepada cahaya, menceritakan bahawa di sana ada kehadiran cahaya. Tetapi benda nyata dan gambaran benda nyata yang kelihatan atau bentuk misal itu bukanlah cahaya. </span><span style="color:blue;" lang="ES-TRAD">Cahaya tetap dalam keadaan aslinya yang tidak ada rupa dan warna</span><span style="color:#333333;" lang="ES-TRAD">. Ada orang yang tidak membedakan bentuk misal dengan cahaya yang asli. Orang yang tidak membedakan bentuk misal dengan hakikat kepada yang dimisalkan itu memahamkan hakikat ketuhanan mempunyai wajah-wajah tertentu.</span><span style="font-size:12pt;color:black;font-family:&quot;" lang="ES-TRAD"></span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:x-small;"><span style="font-family:Arial;"><span style="color:#333333;" lang="ES-TRAD">Hakikat Insan Kamil adalah umpama cahaya yang hening. Hati insan umpama cermin yang jernih. Orang yang memandang ke dalam cermin hatinya bersuluhkan cahaya Hakikat Insan Kamil akan menyaksikan wajahnya sendiri di dalam cermin itu, lalu dia menyangkakan bahawa itulah wajah Insan Kamil yang asli, dan itu jugalah wajah Tuhan yang tidak dibedakan dengan Insan Kamil. Jika orang Hindu menyembah tuhan dalam rupa monyet orang tadi menyembah Tuhan dalam rupa dirinya sendiri. Lama-lama orang Hindu menyembah monyet, tidak lagi menyembah Tuhan. Lama-lama orang tadi menyembah dirinya, tidak lagi menyembah Tuhan. Inilah yang selalu terjadi kepada orang yang berjalan kepada hakikat tanpa membawa syariat.</span><span style="font-size:12pt;color:black;font-family:&quot;" lang="ES-TRAD"></span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:x-small;"><span style="color:#333333;" lang="ES-TRAD"><span style="font-family:Arial;">Orang yang berjalan pada jalan kerohanian perlu melepasi bentuk-bentuk misal. Lepaskan apa juga yang sampai kepada penyaksian. Nafikan dengan kalimah “La ilaha illa Llah</span></span><span style="color:#333333;font-family:&quot;">‿</span><span style="font-family:Arial;"><span style="color:#333333;" lang="ES-TRAD">. Orang yang berjaya melepasi bentuk-bentuk misal tersebut akan sampai kepada </span><span style="color:blue;" lang="ES-TRAD">Penyaksian Hakiki, yaitu menyaksikan tanpa rupa, bentuk, cahaya, warna dan wajah. </span><span style="color:#333333;" lang="ES-TRAD">Pada Penyaksian Hakiki juga tidak ada suara, tidak ada huruf. Penyaksian berlaku kepada mata keyakinan. Si hamba yang menyaksikan dengan mata keyakinan mengucapkan: “Sesungguhnya hatiku tidak berasa syak lagi bahwa Engkau yang daku pandang tanpa rupa, tanpa bentuk, tanpa cahaya, tanpa warna, tanpa suara dan tanpa huruf</span></span><span style="color:#333333;font-family:&quot;">‿</span><span style="font-family:Arial;"><span style="color:#333333;" lang="ES-TRAD">. Itulah keadaan memandang dengan tiada sesuatu yang dipandang, tahu tanpa sesuatu pengetahuan dan kenal tanpa sesuatu pengenalan. </span><span style="color:blue;" lang="ES-TRAD">Penyaksian akal dinamakan </span><span style="color:red;" lang="ES-TRAD">ilmul yaqin</span><span style="color:#333333;" lang="ES-TRAD">. </span><span style="color:blue;" lang="ES-TRAD">Penyaksian mata hati dinamakan </span><span style="color:red;" lang="ES-TRAD">ainul yaqin</span><span style="color:blue;" lang="ES-TRAD">.</span><span style="color:#333333;" lang="ES-TRAD"> </span><span style="color:blue;" lang="ES-TRAD">Penyaksian mata keyakinan dinamakan </span><span style="color:red;" lang="ES-TRAD">haqqul yaqin</span><span style="color:blue;" lang="ES-TRAD">.</span><span style="color:#333333;" lang="ES-TRAD"> Haqqul yaqin meruntuhkan segala pengetahuan dan penyaksian kerana sesungguhnya Tuhan adalah:</span><span style="font-size:12pt;color:black;font-family:&quot;" lang="ES-TRAD"></span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:x-small;"><span style="font-family:Arial;"><span style="color:blue;" lang="ES-TRAD">Tiada sesuatu yang serupa dengan-Nya </span><span style="font-size:12pt;color:black;font-family:&quot;" lang="ES-TRAD"></span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:x-small;"><span style="font-family:Arial;"><span style="color:#333333;">Keyakinan terhadap Allah s.w.t adalah:</span><span style="font-size:12pt;color:black;font-family:&quot;"></span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:x-small;"><span style="font-family:Arial;"><span style="color:#333333;" lang="ES-TRAD">Dan Dia Mendengar dan Melihat. Jika seseorang mau cepat sampai ke matlamat hendaklah bersegera melepaskan bentuk-bentuk misal yang sampai kepada penyaksiannya. Berpindahlah kepada Penyaksian Hakiki. Tanda seseorang sudah memiliki Penyaksian Hakiki adalah dia dapat melihat hakikat ketuhanan pada dua perkara yang bertentangan dengan sekali pandang. Nama, rupa, bentuk, cahaya dan warna tidak menghijab pandangannya untuk menyaksikan hakikat atau Rububiah. </span><span style="color:#333333;">Makrifat tentang nama-nama Tuhan penting bagi memperolehi Penyaksian Hakiki. Jika Yang Menghidupkan tidak menghijab Yang Mematikan, Yang Menaikkan tidak menghijab Yang Menjatuhkan, Yang Memberi tidak menghijab Yang Menahan, Yang Awal tidak menghijab Yang Akhir, Yang Zahir tidak menghijab Yang Batin, maka yang disaksikan pada setiap masa dan dalam semua suasana adalah Yang Maha Esa. Apabila mata ilmu dan mata hati tidak menutup mata keyakinan maka yang disaksikan adalah Yang Haq!</span><span style="font-size:12pt;color:black;font-family:&quot;"></span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:x-small;"><span style="font-family:Arial;"><span style="color:#333333;">Tidak semua orang yang memasuki daerah Hakikat Insan Kamil akan terdorong kepada suasana bersatu dengan Tuhan. Si hamba yang telah mengalami suasana kehadiran kenabian dan mengalami pula suasana keesaan Tuhan akan sentiasa dibayangi oleh rasa kehambaan kepada Tuhan. Pertembungan dengan Hakikat Insan Kamil tidak menyebabkan berlakunya perlarutan. Suasana Hakikat Insan Kamil dialaminya sebagaimana mengalami suasana Hadrat kenabian dan Hadrat ketuhanan. </span><span style="color:#333333;" lang="ES-TRAD">Si hamba tidak mengalami suasana menjadi Insan Kamil atau menjadi Tuhan atau bersatu dengan Tuhan. Insan Kamil merupakan salah satu Hadrat yang dialaminya dan melalui pengalaman tersebut dia mengerti maksud Insan Kamil. </span><span style="font-size:12pt;color:black;font-family:&quot;" lang="ES-TRAD"></span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:x-small;"><span style="color:#333333;"><span style="font-family:Arial;">Orang yang berjalan pada jalan kehambaan akan menetap sebagai hamba, tidak berubah menjadi Adam atau Muhammad atau Insan Kamil atau Tuhan. Sepanjang perjalanan dia berada dalam suasana dia yang menyaksikan dan melalui penyaksian tersebut dia memperolehi pengetahuan dan pengenalan (ilmu dan makrifat) tanpa melepaskan pandangan kepada “Allah Yang Maha Esa</span></span><span style="color:#333333;font-family:&quot;">‿</span><span style="color:#333333;"><span style="font-family:Arial;"> dan “Tiada sesuatu serupa dengan-Nya</span></span><span style="color:#333333;font-family:&quot;">‿</span><span style="font-family:Arial;"><span style="color:#333333;">. Melalui jalan kehambaan kehadiran kenabian, kehadiran Hakikat-hakikat Insan, Muhammad dan Insan Kamil dan juga kehadiran Tuhan berperanan sebagai Pembimbing. ‘Pertemuan’ dengan Hadrat-Hadrat tersebut memperkuatkan Petunjuk Ghaib dalam dirinya. Juru-bicara dalam dirinya sentiasa memberi peringatan. Dia diperingatkan agar berjalan terus, jangan berhenti walaupun dijanjikan syurga atau dihalang oleh neraka, walaupun dibukakan suasana Hakikat-hakikat. Semua itu untuk diketahui dan untuk dikenal, bukan tempat untuk bermakam.</span><span style="font-size:12pt;color:black;font-family:&quot;"></span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:x-small;"><span style="font-family:Arial;"><span style="color:#333333;">Dalam suasana Hakikat Insan Kamil, seseorang biasa berjumpa dengan hakikat maut yaitu mengalami suasana Izrail. Boleh juga dikatakan jika seseorang itu tidak mengalami suasana Izrail dia tidak memasuki daerah Insan Kamil dengan sepenuhnya. Dia mungkin berjalan di bawah bayangan daerah itu sahaja.Manusia biasa naik ke langit melalui jalan biasa yang dilalui oleh semua orang, yaitu jalan mati. Orang yang memasuki daerah Hakikat Insan Kamil juga mengalami kematian, tetapi bukan kematian tubuh badan.</span><span style="font-size:7.5pt;color:black;font-family:Verdana;"></span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:x-small;"><span style="font-family:Arial;"><span style="color:blue;" lang="ES-TRAD">Kematian yang berlaku di sana adalah kematian secara kebatinan, yaitu merasai kehadiran Maut.</span><span style="color:#333333;" lang="ES-TRAD"> Dia mungkin merasai suasana kematian beberapa kali pada alam kebatinannya. Pengalaman yang demikian membuka penutup pada hati. si hamba telah menghadapkan dirinya kepada maut. Pada ketika itu dia menuju kepada pengecilan kesedaran terhadap diri sendiri. Ia menjadi lonjakan untuk mencapai stesen yang berikutnya. Tetapi pengalaman tersebut tidak banyak memberi pengertian kepada dirinya. Dalam daerah Hakikat Insan Kamil pula si hamba sedang menuju ke arah pembesaran kesedaran terhadap diri sendiri. Oleh itu setiap pengalaman menarik perhatiannya. kehadiran Maut pada daerah Insan Kamil memperjelaskan pengalaman . Dalam daerah! Insan Kamil ini si hamba merasakan sangat hampir dengan Maut. Biasa terjadi pada peringkat ini dia mendapat firasat mengenai kematian orang-orang tertentu dan kemudiannya ternyata firasat tersebut adalah benar. Keadaan ini bersifat sementara saja. Apabila dia meninggalkan daerah Insan Kamil dia keluar juga daripada Hadrat Maut itu dan firasat tentang kematian tidak ada lagi.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:x-small;"><span style="font-family:Arial;"><span style="color:#333333;" lang="ES-TRAD">Apabila Hadrat Maut dan Hadrat Insan Kamil bertemu pada satu daerah, pada satu hati, suasana kehambaan akan menetap dan terhindarlah suasana ketuhanan. Hadrat Maut memperlihatkan kedaifan, kehinaan dan kejahilan si hamba. Hadrat Insan Kamil memperlihatkan kekuasaan, kemuliaan dan kebijaksanaan Tuhan. </span><span style="color:blue;" lang="ES-TRAD">Orang yang benar-benar menyaksikan keagungan Tuhan adalah orang yang sedang menghadapi sakratul maut</span><span style="color:#333333;" lang="ES-TRAD">. Keadaan ini samalah seperti keadaan orang yang menerima uang satu juta dan pada masa yang sama dia mengetahui bahwa dia menghidapi penyakit kanser yang akan membawanya kepada maut. Begitulah umpamanya keadaan hati yang merasai Hadrat Maut dan Hadrat Insan Kamil pada satu masa. Dia diperlihatkan kekerdilan dirinya sebagai hamba Tuhan dan keagungan Allah s.w.t sebagai Tuhan. Bertambah kuatlah rasa kehambaan pada dirinya. Jadi, Hadrat Insan Kamil yang menyebabkan sebahagian orang mengalami suasana bersatu dengan Tuhan boleh ju! ga menambahkan rasa kehambaan. Si hamba yang bertambah rasa kekerdilan diri dan kehambaannya kepada Tuhan bermunajat kepada Tuhan dengan penuh tawaduk</span></span></span><span style="font-size:12pt;color:black;font-family:&quot;" lang="ES-TRAD"></span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/bhartoyo.wordpress.com/41/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/bhartoyo.wordpress.com/41/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/bhartoyo.wordpress.com/41/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/bhartoyo.wordpress.com/41/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/bhartoyo.wordpress.com/41/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/bhartoyo.wordpress.com/41/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/bhartoyo.wordpress.com/41/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/bhartoyo.wordpress.com/41/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/bhartoyo.wordpress.com/41/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/bhartoyo.wordpress.com/41/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/bhartoyo.wordpress.com/41/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/bhartoyo.wordpress.com/41/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/bhartoyo.wordpress.com/41/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/bhartoyo.wordpress.com/41/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/bhartoyo.wordpress.com/41/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/bhartoyo.wordpress.com/41/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bhartoyo.wordpress.com&amp;blog=3957306&amp;post=41&amp;subd=bhartoyo&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bhartoyo.wordpress.com/2008/08/15/hakikat-insan-kamil/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a421482cf07d4734eb9b4e6b455cf248?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">bhartoyo</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>At-tajalli</title>
		<link>http://bhartoyo.wordpress.com/2008/08/09/at-tajalli/</link>
		<comments>http://bhartoyo.wordpress.com/2008/08/09/at-tajalli/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 09 Aug 2008 08:31:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bhartoyo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Relegion]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bhartoyo.wordpress.com/?p=38</guid>
		<description><![CDATA[Bila tahap At-tahalli telah dilewati, maka berarti tahap berikutnya, At-tajalli ada di hadapan anda. Itulah puncak pengembaraan spiritual yang paling indah dan nikmat. Itulah tahap misteri penampakan. Itulah tahap ekstasi spiritual yang tak terlukiskan, Itulah taman indah tempat bermain jiwa-jiwa rebah urafa’. Pengertian At-tajalli Secara kebahasaan At-tajalli adalah penampakan sesuatu bukan karena sebelumnya terhalang. Karena [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bhartoyo.wordpress.com&amp;blog=3957306&amp;post=38&amp;subd=bhartoyo&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Bila tahap At-tahalli telah dilewati, maka berarti tahap berikutnya, At-tajalli ada di hadapan anda. Itulah puncak pengembaraan spiritual yang paling indah dan nikmat. Itulah tahap misteri penampakan. Itulah tahap ekstasi spiritual yang tak terlukiskan, Itulah taman indah tempat bermain jiwa-jiwa rebah urafa’.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"><span id="more-38"></span>Pengertian At-tajalli<br />
Secara kebahasaan At-tajalli adalah penampakan sesuatu bukan karena sebelumnya terhalang. Karena itulah ia berbeda dengan al-kasyf yang berarti ketersingkapan. </span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">و النهار اذا تجلّى</span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> (Demi siang kala tampak) Par ahli irfan nazhari menggambarkan secara umum tahap tajalli sebagai tahap ketika zat mutlak Allah Al-Haq dan semua kesempurnaanNya nampakdan menyeruak. Adapun ilustrasi detail proses penampakan itu, para ahli irfan nazhari, memberikan penguraian yang berbeda-beda. Sebagian menganggap al-hulul sebagai proses penampakan. Sebagian lain menganggap al-ittihad sebagai prosesnya. Sedangkan sebagian lain At-tajafi.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;color:#0000ff;font-family:Arial;">Pembagian At-tajalli<br />
Sebagian ahli irfan membagi At-tajalli dalam beberapa tahap sebagai berikut:<br />
1). At-tajalli al-ilmi al-I’tiqadi. Yaitu tahap penampakan konsep-konsep keyakinan yang terbatas -berupa hijab pikiran-. Ini penampakan tak sejati.<br />
2). At-tajalli asy-syuhudi. Yaitu tahap penampakan Al-haq dalam entitas-entitas subjektif dan objektif –ketika busana selainNya telah lebih dulu dilucuti-. Sebagian menggambarkannya sebagai tahap penampakan Al-Haq berupa salinan muqayyad (terbatas, relatif) atau mutlak dalam forma (tampilan) segala maujud (entitas). Ini pempakan rendah.<br />
3). At-tajalli al-wujudi asy-syahadi. Yaitu tahap penampakan Al-Haq yang terefleksikan dalam ketetapan-ketetapan dan pengaruh serta jejak entitas-entitas. Penampakan kedua ini merupakan konsekuensi dari penampakan pertama. Ini penampakan medium.<br />
4). At-tajalli al-‘ilmi al-‘aini. Yaitu Yaitu tahap penampakan Al-Haq dalam forma pengetahuan tentang diriNya berupa forma entitas-entitas, potensi dan kapasitas-kapasitas. Kaum sufi menyebutnya dengan Al-faidh Al-Aqdas atau limpahan terkudus</span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">.</span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/bhartoyo.wordpress.com/38/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/bhartoyo.wordpress.com/38/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/bhartoyo.wordpress.com/38/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/bhartoyo.wordpress.com/38/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/bhartoyo.wordpress.com/38/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/bhartoyo.wordpress.com/38/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/bhartoyo.wordpress.com/38/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/bhartoyo.wordpress.com/38/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/bhartoyo.wordpress.com/38/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/bhartoyo.wordpress.com/38/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/bhartoyo.wordpress.com/38/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/bhartoyo.wordpress.com/38/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/bhartoyo.wordpress.com/38/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/bhartoyo.wordpress.com/38/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/bhartoyo.wordpress.com/38/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/bhartoyo.wordpress.com/38/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bhartoyo.wordpress.com&amp;blog=3957306&amp;post=38&amp;subd=bhartoyo&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bhartoyo.wordpress.com/2008/08/09/at-tajalli/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a421482cf07d4734eb9b4e6b455cf248?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">bhartoyo</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Takhalli, Tahalli, dan Tajalli</title>
		<link>http://bhartoyo.wordpress.com/2008/08/09/takhalli-tahalli-dan-tajalli/</link>
		<comments>http://bhartoyo.wordpress.com/2008/08/09/takhalli-tahalli-dan-tajalli/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 09 Aug 2008 07:35:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bhartoyo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Relegion]]></category>
		<category><![CDATA[hati]]></category>
		<category><![CDATA[jasmani]]></category>
		<category><![CDATA[rohani]]></category>
		<category><![CDATA[sufi]]></category>
		<category><![CDATA[Tahalli]]></category>
		<category><![CDATA[Tajalli]]></category>
		<category><![CDATA[Takhalli]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bhartoyo.wordpress.com/?p=32</guid>
		<description><![CDATA[Manusia dilengkapi oleh Allah dua hal pokok, yaitu jasmani dan rohani. Dua hal ini memiliki keperluan masing-masing. Jasmani membutuhkan makan, minum, pelampiasan syahwat, keindahan, pakaian, perhiasan-perhiasan dan kemasyhuran. Rohani, pada sisi lain, membutuhkan kedamaian, ketenteraman, kasih-sayang dan cinta. Para sufi menegaskan bahwa hakekat sesungguhnya manusia adalah rohaninya. Ia adalah muara segala kebajikan. Kebahagiaan badani sangat [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bhartoyo.wordpress.com&amp;blog=3957306&amp;post=32&amp;subd=bhartoyo&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10pt;color:#000000;font-family:Arial;">Manusia dilengkapi oleh Allah dua hal pokok, yaitu <strong>jasmani dan rohani</strong>. Dua hal ini memiliki keperluan masing-masing. Jasmani membutuhkan makan, minum, pelampiasan syahwat, keindahan, pakaian, perhiasan-perhiasan dan kemasyhuran. Rohani, pada sisi lain, membutuhkan kedamaian, ketenteraman, kasih-sayang dan cinta. </span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;color:#000000;font-family:Arial;">Para</span><span style="font-size:10pt;color:#000000;font-family:Arial;"> sufi menegaskan bahwa hakekat sesungguhnya manusia adalah <strong>rohaninya</strong>. <span id="more-32"></span>Ia adalah muara segala kebajikan. Kebahagiaan badani sangat tergantung pada kebahagiaan rohani. Sedang, kebahagiaan rohani tidak terikat pada wujud luar jasmani manusia. Sebagai inti hidup, rohani harus ditempatkan pada posisi yang lebih tinggi. Semakin tinggi rohani diletakkan, kedudukan manusia akan semakin agung. Jika rohani berada pada tempat rendah, hina pulalah hidup manusia. Fitrah rohani adalah kemuliaan, jasmani pada kerendahan. Badan yang tidak memiliki rohani tinggi, akan selalu menuntut pemenuhan kebutuhan-kebutuhan rendah hewani. Rohani hendaknya dibebaskan dari ikatan keinginan hewani, yaitu kecintaan pada pemenuhan syahwat dan keduniaan. Hati manusia yang terpenuhi dengan cinta pada dunia, akan melahirkan kegelisahan dan kebimbangan yang tidak berujung. Hati adalah cerminan ruh. Kebutuhan ruh akan cinta bukan untuk dipenuhi dengan kesibukan pada dunia. Ia harus bersih.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;color:#000000;font-family:Arial;">Dalam rangkaian metode pembersihan hati, para sufi menetapkan dengan tiga tahap : <strong>Takhalli, Tahalli, dan Tajalli.</strong> Takhalli, sebagai tahap pertama dalam mengurus hati, adalah membersihkan hati dari keterikatan pada dunia. Hati, sebagai langkah pertama, harus dikosongkan. Ia disyaratkan terbebas dari kecintaan terhadap dunia, anak, istri, harta dan segala keinginan duniawi. </span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;color:#000000;font-family:Arial;">Dunia dan isinya, oleh para sufi, dipandang rendah. Ia bukan hakekat tujuan manusia. Manakala kita meninggalkan dunia ini, harta akan sirna dan lenyap. Hati yang sibuk pada dunia, saat ditinggalkannya, akan dihinggapi kesedihan, kekecewaan, kepedihan dan penderitaan. Untuk melepaskan diri dari segala bentuk kesedihan, lanjut para saleh sufi, seorang manusia harus terlebih dulu melepaskan hatinya dari kecintaan pada dunia. </span></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:10pt;color:#000000;font-family:Arial;">Tahalli</span></strong><span style="font-size:10pt;color:#000000;font-family:Arial;">, sebagai tahap kedua berikutnya, adalah upaya pengisian hati yang telah dikosongkan dengan isi yang lain, yaitu Allah (swt). Pada tahap ini, hati harus selalu disibukkan dengan dzikir dan mengingat Allah. Dengan mengingat Allah, melepas selain-Nya, akan mendatangkan kedamaian. Tidak ada yang ditakutkan selain lepasnya Allah dari dalam hatinya. Hilangnya dunia, bagi hati yang telah tahalli, tidak akan mengecewakan. Waktunya sibuk hanya untuk Allah, bersenandung dalam dzikir. Pada saat tahalli, lantaran kesibukan dengan mengingat dan berdzikir kepada Allah dalam hatinya, anggota tubuh lainnya tergerak dengan sendirinya ikut bersenandung dzikir. Lidahnya basah dengan lafadz kebesaran Allah yang tidak henti-hentinya didengungkan setiap saat. Tangannya berdzikir untuk kebesaran Tuhannya dalam berbuat. Begitu pula, mata, kaki, dan anggota tubuh yang lain. Pada tahap ini, hati akan merasai ketenangan. Kegelisahannya bukan lagi pada dunia yang menipu. Kesedihannya bukan pada anak dan istri yang tidak akan menyertai kita saat maut menjemput. Kepedihannya bukan pada syahwat badani yang seringkali memperosokkan pada kebinatangan. Tapi hanya kepada Allah. Hatinya sedih jika tidak mengingat Allah dalam setiap detik. </span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;color:#000000;font-family:Arial;">Setelah tahap pengosongan dan pengisian, sebagai tahap ketiga adalah <strong>Tajalli</strong>. Yaitu, tahapan dimana kebahagian sejati telah datang. Ia lenyap dalam wilayah Jalla Jalaluh, Allah subhanahu wata’ala. Ia lebur bersama Allah dalam kenikmatan yang tidak bisa dilukiskan. Ia bahagia dalam keridhoan-Nya. Pada tahap ini, para sufi menyebutnya sebagai marifah, orang yang sempurna sebagai manusia luhur. </span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;color:#0000ff;font-family:Arial;">Syekh Abdul Qadir Jaelani menyebutnya sebagai insan kamil, manusia sempurna.</span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"><span style="color:#333333;"> Ia bukan lagi hewan, tapi seorang malaikat yang berbadan manusia. Rohaninya telah mencapai ketinggian kebahagiaan. Tradisi sufi menyebut orang yang telah masuk pada tahap ketiga ini sebagai </span></span><span style="font-size:10pt;color:#0000ff;font-family:Arial;">waliyullah, kekasih Allah</span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"><span style="color:#333333;">. Orang-orang yang telah memasuki tahapan </span></span><span style="font-size:10pt;color:#0000ff;font-family:Arial;">Tajalli ini, ia telah mencapai derajat tertinggi kerohanian manusia. </span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"><span style="color:#333333;">Derajat ini pernah dilalui oleh Hasan Basri, Imam Junaidi al-Baghdadi, Sirri Singkiti, Imam Ghazali, Rabiah al-Adawiyyah, Ma’ruf al-Karkhi, Imam Qusyairi, Ibrahim Ad-ham, Abu Nasr Sarraj, Abu Bakar Kalabadhi, Abu Talib Makki, Sayyid Ali Hujweri, Syekh Abdul Qadir Jaelani, dan lain sebagainya. </span></span><span style="font-size:10pt;color:#0000ff;font-family:Arial;">Tahap inilah hakekat hidup dapat ditemui, yaitu kebahagiaan sejati. </span><span lang="ES-TRAD"><span style="font-size:x-small;"><span style="color:#333333;"><span style="font-family:Verdana;">Wallahu a’lam.</span></span></span></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span lang="ES-TRAD"><span style="font-size:x-small;"><span style="color:#333333;"><span style="font-family:Verdana;">Rizqon Khamami.</span></span></span></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span class="small1"><span style="font-weight:normal;font-size:10pt;color:#000000;font-family:Arial;">Oleh: Dewan Asatidz </span></span><strong><span style="font-size:10pt;color:#000000;font-family:Arial;">  </span></strong></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/bhartoyo.wordpress.com/32/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/bhartoyo.wordpress.com/32/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/bhartoyo.wordpress.com/32/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/bhartoyo.wordpress.com/32/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/bhartoyo.wordpress.com/32/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/bhartoyo.wordpress.com/32/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/bhartoyo.wordpress.com/32/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/bhartoyo.wordpress.com/32/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/bhartoyo.wordpress.com/32/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/bhartoyo.wordpress.com/32/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/bhartoyo.wordpress.com/32/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/bhartoyo.wordpress.com/32/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/bhartoyo.wordpress.com/32/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/bhartoyo.wordpress.com/32/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/bhartoyo.wordpress.com/32/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/bhartoyo.wordpress.com/32/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bhartoyo.wordpress.com&amp;blog=3957306&amp;post=32&amp;subd=bhartoyo&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bhartoyo.wordpress.com/2008/08/09/takhalli-tahalli-dan-tajalli/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a421482cf07d4734eb9b4e6b455cf248?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">bhartoyo</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Menggapai Ampunan Allah dgn Taubat dan Istighfar</title>
		<link>http://bhartoyo.wordpress.com/2008/08/09/menggapai-ampunan-allah-dgn-taubat-dan-istighfar/</link>
		<comments>http://bhartoyo.wordpress.com/2008/08/09/menggapai-ampunan-allah-dgn-taubat-dan-istighfar/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 09 Aug 2008 01:02:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bhartoyo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[beriman]]></category>
		<category><![CDATA[bertaubat]]></category>
		<category><![CDATA[dosa]]></category>
		<category><![CDATA[Istighfar]]></category>
		<category><![CDATA[meminta ampun]]></category>
		<category><![CDATA[sabar]]></category>
		<category><![CDATA[seratus kali]]></category>
		<category><![CDATA[Taubat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bhartoyo.wordpress.com/?p=21</guid>
		<description><![CDATA[Sahabat dimanapun berada yg dirahmati Allah, kalau kita perhatikan diri kita sebagai manusia, ternyata kita tidak pernah luput dari kesalahan dan dosa. Manusia bukanlah seperti malaikat yang ma&#8217;shum dari segala kesalahan, tidak pernah sekalipun mereka meninggalkan perintah-perintah Allah ataupun melanggar larangan-laranganNya.Karena terlalu banyak dosa dan kesalahan yang kita lakukan, sudah menjadi keharusan bagi kita kaum muslimin untuk [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bhartoyo.wordpress.com&amp;blog=3957306&amp;post=21&amp;subd=bhartoyo&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;">
<div class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-family:&quot;"><span style="font-size:x-small;">Sahabat dimanapun berada yg dirahmati Allah, kalau kita perhatikan diri kita sebagai manusia, ternyata kita tidak pernah luput dari kesalahan dan dosa. Manusia bukanlah seperti malaikat yang ma&#8217;shum dari segala kesalahan, tidak pernah sekalipun mereka meninggalkan perintah-perintah Allah ataupun melanggar larangan-laranganNya.<span style="font-family:&quot;"><span style="font-size:x-small;">Karena terlalu banyak dosa dan kesalahan yang kita lakukan, sudah menjadi keharusan bagi kita kaum muslimin untuk bertaubat atas segala kesalahan yang pernah kita lakukan dan senantiasa meminta ampun kepadaNya. Banyak sekali dalil yang menunjukkan kewajiban bertaubat.</span></span></span></span></div>
<div><span style="font-family:&quot;"><span style="font-size:x-small;">Firman Allah SWT:</span></span></div>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-family:&quot;"><span style="font-size:x-small;">Dan bertaubatlah kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung. (QS. 24:31)</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-family:&quot;"><span id="more-21"></span><br />
<span style="font-size:x-small;">Dalam ayat ini Allah SWT memerintahkan kepada penduduk Madinah yang jelas adalah orang-orang yang beriman dan merupakan umat yang terbaik. Mereka adalah orang-orang yang beriman di hadapan Rasulullah SAW, sabar dalam mempertahankan keimanan mereka walaupun menghadapi siksaan yang luar biasa pedihnya dari golongan kafir Quraisy, berhijrah bersama Rasulullah SAW meninggalkan harta benda dan kampung halaman mereka yang tercinta,mereka berjuang menegakkan agama Islam bersama<br />
Rasulullah SAW. Mereka yang demikianpun diperintahkan Allah SWT agar bertaubat kepadaNya. </span></span><span style="font-family:&quot;"><span style="font-size:x-small;">Bagaimana dengan kita yang tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan mereka?</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;">
<div class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-family:&quot;"><span style="font-family:&quot;"> </span></span></div>
<p><span style="font-family:&quot;"><span style="font-family:&quot;"> </p>
<p></span></span></p>
<p><span style="font-family:&quot;"><span style="font-size:x-small;">Rasulullah SAW bersabda:</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-family:&quot;"><span style="font-size:x-small;">Hai sekalian manusia bertaubatlah kalian kepada Allah dan mintalah ampunan darinya, sesungguhnya saya bertaubat dalam sehari seratus kali. (HR: Muslim).</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-family:&quot;"><br />
<strong><span style="font-size:x-small;">Hakikat Istighfar dan Taubat</span></strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-family:&quot;"><span style="font-size:x-small;">Sebagian besar orang menyangka bahwa istighfar dan taubat hanyalah cukup dengan lisan semata. </span></span><span style="font-family:&quot;"><span style="font-size:x-small;">Sebagian mereka mengucapkan, &#8220;Aku memohon ampunan kepada Allah dan bertaubat kepada-Nya.&#8221; Tetapi, kalimat itu tidak membekas di dalam hati, juga tidak berpengaruh dalam perbuatan anggota badan. Sesungguhnya istighfar dan taubat jenis<br />
ini adalah perbuatan orang-orang dusta.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-family:&quot;"><br />
<span style="font-size:x-small;">Para ulama, semoga Allah memberi balasan yang sebaik-baiknya kepada mereka, telah menjelaskan hakikat istighfar dan taubat.Imam ar-Raghib al-Ashfahani menerangkan, &#8220;Dalam istilah syara&#8217;, taubat adalah meninggalkan dosa karena keburukannya, menyesali dosa yang telah dilakukan, berkeinginan kuat untuk tidak mengulanginya, dan berusaha melakukan apa yang bisa diulangi (diganti).</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-family:&quot;"><span style="font-size:x-small;">Jika keempat hal itu telah terpenuhi berarti syarat taubatnya telah sempurna.&#8221;<br />
</span><strong><br />
<span style="font-size:x-small;">Syarat-syarat taubat :</span></strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-family:&quot;"><span style="font-size:x-small;">Bertaubat dari setiap dosa hukumnya adalah wajib. Jika dosa itu adalah dosa terhadap Allah SWT dan tidak ada sangkut pautnya dengan anak cucu Adam, maka syarat taubatnya ada tiga :</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-family:&quot;"><span style="font-size:x-small;"> </span></span></p>
<ol style="margin-top:0;" type="1">
<li class="MsoNormal"><span style="font-family:&quot;"><span style="font-size:x-small;">Berhenti dari melakukan perbuatan dosa itu.</span></span></li>
<li class="MsoNormal"><span style="font-family:&quot;"><span style="font-size:x-small;">Menyesal telah melakukan perbuatan dosa tersebut.</span></span></li>
<li class="MsoNormal"><span style="font-family:&quot;"><span style="font-size:x-small;">Berjanji tidak akan pernah mengulanginya lagi untuk<br />
selama-lamanya.</span></span></li>
</ol>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 0 18pt;"><span style="font-family:&quot;"><br />
<span style="font-size:x-small;">Jika taubat itu berkaitan dengan manusia, maka syaratnya ada empat. Ketiga syarat seperti di atas,dan keempat hendaknya ia membebaskan diri (memenuhi)hak orang tersebut. Jika berbentuk harta benda atau sejenisnya maka ia harus mengembalikannya. Jika berupa had (hukuman) tuduhan atau sejenisnya maka ia harus memberinya kesempatan untuk membalasnya atau meminta maaf kepadanya. Jika berupa ghibah (menggunjing), maka ia harus meminta maaf.&#8221;</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 0 18pt;"><span style="font-family:&quot;"><br />
<span style="font-size:x-small;">Adapun istighfar, sebagaimana diterangkan Imam ar-Raghib al-Ashfahani adalah &#8220;Meminta (ampunan) dengan ucapan dan perbuatan. Allah SWT berfirman,<br />
&#8220;Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia Maha Pengampun.&#8221; (Nuh: 10).</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 0 18pt;">
<div class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 0 18pt;"><span style="font-family:&quot;"><br />
<span style="font-size:x-small;">Tidaklah berarti bahwa mereka diperintahkan meminta ampun hanya dengan lisan semata, tetapi dengan lisan dan perbuatan. Bahkan hingga dikatakan, memohon ampón (istighfar) hanya dengan lisan saja tanpa disertai perbuatan adalah pekerjaan para pendusta.<span style="font-family:&quot;"><span style="font-size:x-small;"><strong>Kapan pintu taubat ditutup?</strong></span></span></span></span></div>
<p><span style="font-family:&quot;"><span style="font-size:x-small;"><span style="font-family:&quot;"><span style="font-size:x-small;"></p>
<div><span style="font-family:&quot;"> </span></div>
<p></span></span></span><span style="font-family:&quot;"> </p>
<p></span></span></p>
<p> </p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 0 18pt;"><span style="font-family:&quot;"><span style="font-size:x-small;">Allah SWT akan selalu menerima taubat hambaNya selama ajal belum menjemput orang tersebut. Apabila roh telah sampai ke hulqum (tenggorokan ) maka taubat seseorang itu sudah tidak berguna lagi. Rasulullah SAW bersabda:Sesungguhnya Allah SWT menerima taubat seorang hamba selama roh belum sampai ke tenggorrokan ( HR: Ahmad,<br />
Ibnu Majah, Tirmizi dan ia berkata : hadits hasan ).</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 0 18pt;"><span style="font-family:&quot;"><br />
<span style="font-size:x-small;">Pintu taubat juga sudah tertutup apabila matahari telah terbit dari arah barat. Rasululllah SAW bersabda:</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 0 18pt;"><span style="font-family:&quot;"><span style="font-size:x-small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 0 18pt;"><span style="font-family:&quot;"><span style="font-size:x-small;">Barang siapa yang bertaubat sebelum matahari terbit dari tempat tenggelamnya (sebelah barat ), niscaya Allah SWT akan menerima taubatnya. (HR: Muslim )</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 0 18pt;">
<div class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 0 18pt;"><span style="font-family:&quot;"><br />
<span style="font-size:x-small;">Walau demikian, janganlah kita menunda-nunda taubat.Karena taswif (menunda-nunda ) adalah tanda orang yang tidak beruntung- wal&#8217;iyaazu billah.<span style="font-family:&quot;"><span style="font-size:x-small;">Dalam hadits yang lain Rasulullah SAW menjelaskan:<br />
Sesungguhnya Allah SWT membuka tanganNya di waktu malam agar bertaubat orang yang bersalah di siang hari, dan membuka tanganNya di waktu siang agar bertaubat orang yang bersalah ( berdosa ) di malam hari, sampai terbit matahari dari sebelah barat. (HR: Muslim ).</span></span></span></span></div>
<p><span style="font-family:&quot;"><span style="font-size:x-small;"><span style="font-family:&quot;"><span style="font-size:x-small;"></p>
<div><span style="font-family:&quot;"> </span></div>
<p></span></span></span><span style="font-family:&quot;"> </p>
<p></span></span></p>
<p> </p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 0 18pt;">
<div class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 0 18pt;"><span style="font-family:&quot;"><br />
<span style="font-size:x-small;">Allah akan selalu menerima taubat hambaNya sebesar apapun dosa itu.<span style="font-family:&quot;"><span style="font-size:x-small;"><strong>Beberapa faedah taubat dan istighfar</strong></span></span></span></span></div>
<p><span style="font-family:&quot;"><span style="font-size:x-small;"><span style="font-family:&quot;"><span style="font-size:x-small;"></p>
<div><span style="font-family:&quot;"> </span></div>
<p></span></span></span><span style="font-family:&quot;"> </p>
<p></span></span></p>
<p> </p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 0 18pt;"><strong><span style="font-family:&quot;"><span style="font-size:x-small;"> </span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:-18pt;text-align:justify;margin:0 0 0 54pt;"><span style="font-family:&quot;"><span><span style="font-size:x-small;">1.</span><span style="font-family:&quot;">      </span></span></span><span style="font-family:&quot;"><span style="font-size:x-small;">Sebagai penolak bala dan azab dari Allah SWT.<br />
Disamping sebagai sebuah kewajiban, taubat juga sebagai benteng dari turunnya azab Allah SWT. Firman Allah SWT:<br />
Dan Allah sekali-kali tidak akan mengazab mereka, sedang kamu berada diantara mereka. Dan tidaklah (pula) Allah akan mengazab mereka, sedang mereka meminta ampun&#8221;. (QS. 8:33)<br />
Abu Musa Al Asy&#8217;ari r.a. pernah mengatakan tentang ayat di atas: &#8220;Kita mungkin masih bisa tenang pada masa hidup Rasulullah SAW, karena kita semua yakin bahwa Allah SWT tidak akan menurunkan azabNya selama beliau masih ada di tengah-tengah kita. Sekarang, setelah Rasulullah SAW tiada, tidak ada lagi yang bisa menahan turunnya azab Allah SWT kecuali kalau kita senantiasa meminta ampun kepadaNya.&#8221;</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 0 36pt;"><span style="font-family:&quot;"><span style="font-size:x-small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:-18pt;text-align:justify;margin:0 0 0 54pt;"><span style="font-family:&quot;"><span><span style="font-size:x-small;">2.</span><span style="font-family:&quot;">      </span></span></span><span style="font-family:&quot;"><span style="font-size:x-small;">Taubat dan Istighfar pembuka pintu rizki. Beberapa nash (teks) Alquran dan hadis menunjukkan bahwa istighfar dan taubat termasuk sebab-sebab rezeki dengan karunia Allah (QS.Nuh:10-12, Hud: 52).</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-family:&quot;"><span style="font-size:x-small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:-18pt;text-align:justify;margin:0 0 0 54pt;"><span style="font-family:&quot;"><span><span style="font-size:x-small;">3.</span><span style="font-family:&quot;">      </span></span></span><span style="font-family:&quot;"><span style="font-size:x-small;">Ayat yang lain adalah firman Allah: &#8220;Dan hendaklah kamu meminta ampun kepada Tuhanmu dan bertaubat kepada-Nya. (jika kamu mengerjakan yang demikian), niscaya Dia akan memberi kenikmatan yang baik (terus menerus) kepadamu sampai kepada waktu yang telah ditentukan, dan Dia akan memberi kepada tiap-tiap orang yang mempunyai keutamaan (balasan) keutamaannya. Jika kamu berpaling, maka sesungguhnya aku takut kamu akan ditimpa siksa hari Kiamat.&#8221; (Hud:3).<span>                                 </span><span>        </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-family:&quot;"><span style="font-size:x-small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 0 18pt;"><span style="font-family:&quot;"><span style="font-size:x-small;">Dalil lain bahwa beristighfar dan taubat adalah diantara kunci-kunci rezeki, yaitu hadis yang diriwayatkan Imam Ahmad, Abu Dawud, an-Nasa&#8217;i, Ibnu Majah dan al-Hakim dari Abdullah bin Abbas ia berkata,Rasulullah bersabda, &#8220;Barangsiapa memperbanyak<br />
istighfar (mohon ampun kepada Allah), niscaya Allah menjadikan untuk setiap kesedihannya jalan keluar dan untuk setiap kesempitannya kelapangan dan Allah akan memberinya rezeki (yang halal) dari arah yang tiada disangka-sangka.&#8221;</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 0 18pt;">
<div class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 0 18pt;"><span style="font-family:&quot;"><span style="font-family:&quot;"><span style="font-size:x-small;">Karena itu, kepada orang yang mengharapkan rezeki hendaklah ia bersegera untuk memperbanyak istighfar (memohon ampun), baik dengan ucapan maupun perbuatan.</span></span></span></div>
<p><span style="font-family:&quot;"><span style="font-family:&quot;"> </p>
<p></span></span></p>
<p> </p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 0 18pt;"><span style="font-family:&quot;"><span style="font-size:x-small;">Dan, hendaknya setiap muslim waspada, sekali lagi hendaknya waspada, dari melakukan istighfar hanya sebatas dengan lisan tanpa perbuatan. Sebab, itu adalah pekerjaan para pendusta.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 0 18pt;"><span style="font-family:&quot;"><br />
<span style="font-size:x-small;">Ya Allah, jadikanlah kami termasuk orang-orang yang memiliki sifat taubat dan istighfar, dan mudahkanlah rezeki-rezeki kami, lancarkanlah urusan-urusan kami serta jagalah keadaan kami. Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar lagi Maha Mengabulkan doa. Amin, wahai Dzat Yang Memiliki keagungan dan kemuliaan.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 0 18pt;"><span style="font-family:&quot;"><br />
</span><span style="font-family:&quot;"><span style="font-size:x-small;">Wallahu A&#8217;lamu Bishshawab.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 0 18pt;"><span style="font-family:&quot;"><br />
<span style="font-size:x-small;">Sumber:<br />
www.alislam.or.id</span></span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/bhartoyo.wordpress.com/21/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/bhartoyo.wordpress.com/21/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/bhartoyo.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/bhartoyo.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/bhartoyo.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/bhartoyo.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/bhartoyo.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/bhartoyo.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/bhartoyo.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/bhartoyo.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/bhartoyo.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/bhartoyo.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/bhartoyo.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/bhartoyo.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/bhartoyo.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/bhartoyo.wordpress.com/21/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bhartoyo.wordpress.com&amp;blog=3957306&amp;post=21&amp;subd=bhartoyo&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bhartoyo.wordpress.com/2008/08/09/menggapai-ampunan-allah-dgn-taubat-dan-istighfar/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a421482cf07d4734eb9b4e6b455cf248?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">bhartoyo</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Mengundang Kehadiran Malaikat Ke Rumah</title>
		<link>http://bhartoyo.wordpress.com/2008/07/20/mengundang-kehadiran-malaikat-ke-rumah/</link>
		<comments>http://bhartoyo.wordpress.com/2008/07/20/mengundang-kehadiran-malaikat-ke-rumah/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 20 Jul 2008 08:19:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bhartoyo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[lahir batin]]></category>
		<category><![CDATA[malaikat Allah]]></category>
		<category><![CDATA[orang]]></category>
		<category><![CDATA[orang tuanya]]></category>
		<category><![CDATA[pemaaf]]></category>
		<category><![CDATA[rumah]]></category>
		<category><![CDATA[sujud]]></category>
		<category><![CDATA[surga]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bhartoyo.wordpress.com/?p=18</guid>
		<description><![CDATA[Tak seorang muslimpun yang tidak menginginkan rumah mereka senantiasa dihadiri oleh para malaikat Allah dan dijauhkan dari syetan. Sebab kehadiran mereka di rumah mereka akan melahirkan aura ketenteraman dan kesejukan dan kedamaian ruhani yang mengalir di rumah itu. Kehadiran mereka akan membuat rumah kita laksana surga.Diantara para malaikat itu ada yang sengaja keliling untuk menebarkan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bhartoyo.wordpress.com&amp;blog=3957306&amp;post=18&amp;subd=bhartoyo&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:9pt;color:#000000;"><span style="font-family:Arial;">Tak seorang muslimpun yang tidak menginginkan rumah mereka senantiasa dihadiri oleh para malaikat Allah dan dijauhkan dari syetan. Sebab kehadiran mereka di rumah mereka akan melahirkan aura ketenteraman dan kesejukan dan kedamaian ruhani yang mengalir di rumah itu. Kehadiran mereka akan membuat rumah kita laksana surga.<span style="font-size:9pt;color:black;"><span style="font-family:Arial;">Diantara para malaikat itu ada yang sengaja keliling untuk menebarkan rahmat dan kedamaian di tengah manusia sebagaiamna syetan berkeliling untuk menebarkan kejahatan di tengah mereka.<br />
<span id="more-18"></span></p>
<p></span></span></span><span style="font-size:9pt;color:black;"> </p>
<p></span></span></p>
<p><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:9pt;color:#000000;">Lalu rumah mana saja yang akan dihadiri para malaikat itu?Diantaranya adalah :<br />
1. Rumah yang diliputi dzikir kepada Allah yang di dalamnya ada ruku dan sujud<br />
2. Rumah yang senantiasa bersih<br />
3. Rumah yang penghuninya adalah orang-orang yang jujur dan menepati janji<br />
4. Rumah yang dihuni oleh orang-orang yang senantiasa menyambung tali silaturahim<br />
5. Rumah yang dihuni oleh orang yang makanannya halal<br />
6. Rumah yang dihuni oleh orang yang senantiasa berbuat baik kepada kedua orang tuanya.<br />
7. Rumah yang senantiasa ada tilawah Al-Quran<br />
8. Rumah yang dihuni oleh para penuntut ilmu<br />
9. Rumah yang penghuninya ada isteri solehah<br />
10. Rumah yang bersih dari barang-barang haram<br />
11. Rumah yang dihuni oleh orang yang rendah hati, sabar, tawakal, qana’ah, dermawan pemaaf yang<br />
senantiasa bersih lahir batin dan para penghuninya makan tidak terlalu banyak</p>
<p>Di bawah ini akan dipaparkan beberapa dalil yang menunjukkan pada hal di atas.</p>
<p>Mengenai orang-orang yang berada dalam majlis dzikir Rasulullah bersabda : “Jika kalian melewati kebun-kebun surga maka mampirlah di tempat itu! Para sahabat berkata, “Apa yang dimaksud dengan kebun-kebun surga itu wahai Rasulullah?” Nabi bersabda, “Kelompok manusia yang berdzikir. Karena sesungguhnya Allah memiliki malaikat-malaikat yang senantiasa keliling mencari kelompok manusia yang berdzikir dan jika mereka datang ke tempat mereka malaikat itu dan mengitarinya”, hadits ini diriwayatkan oleh Ibnu Umar sebagaimana disebutkan oleh An-Nawawi dalam buku Al-Adzkar. Dalam hadits lain disebutkan bahwa Rasulullah bersabda</p>
<p><em>“Tidaklah sekali-kali sebuah kaum duduk dengan berdzikir kepada Allah kecuali mereka akan dikelilingi malaikat dan akan disirami rahmat dan akan turun kepada mereka ketenangan. Allah akan menyebutkan tentang mereka pada malaikat yang ada di sisi-Nya”</em> (HR. Muslim)</p>
<p>Ini semua menunjukkan bahwa dzikir kepada Allah di rumah kita akan menjadikan malaikat memasuki rumah kita dan akan berada dengan kita. Sebaliknya rumah yang dikosongkan dengan dari dzikir maka malaikat juga akan menjauhinya.</p>
<p>Sementara itu orang yang membcan Al-Quran disebutkan dalam sabdanya : <em>“Sesungguhnya rumah itu akan terasa luas bagi penghuninya, akan didatangi malaikat, dijauhi syetan dan akan membanjir pula kebaikan ke dalamnya, jika dibacakan Al-Quran di dalamnya. Sebaliknya, rumah itu akan terasa sempit bagi penghuninya, akan dijauhi malaikat dan akan didatangi syetan serta tidak akan banyak kebaikan di dalamnya, jika tidak dibacakan Al-Quran” </em>(HR. Ad-Darimi).</p>
<p>Dengan membaca Al-Quran maka akan turun malaikat rahmat, akan datang kebaikan akan muncul ketenangan di dalam rumah kita. Rumah yang tidak ada bacaan Al-Quran maka ketahuilah bahwa rumah itu sebenarnya telah menjadi kuburan walaupun penghuninya masih bernyawa.</p>
<p>Tentang orang yang rajin menjalin silaturahmi, disebutkan dari Abu Hurairah bahwa seorang lelaki pergi untuk mengunjungi saudaranya di sebuah desa yang lain. Maka segera diperintahkan kepada malaikat untuk menemani orang itu. Tatkala malaikat bertemu dengan orang tadi maka dia bertanya : Kemana engkau akan pergi? Lelaki itu menjawab : Aku akan pergi mengunjungi saudara saya di desa itu! Malaikat itu bertanya : Apakah kau memiliki suatu nikmat yang akan kau berikan padanya? Orang itu berkata : Tidak, saya mengunjunginya semata karena saya mencintainya karena Allah! Malaikat itu berkata : “Sesungguhnya aku utusan Allah kepadamu. Allah telah mencintaimu sebagaimana kau mencintai orang itu” (HR. Muslim)</p>
<p>Mengenai penuntut ilmu yang dinaungi sayap malaikat Rasulullah bersabda :<em> “Sesungguhnya malaikat membentangkan sayapnya untuk para penuntut ilmu karena suka dengan apa yang sedang dia tuntut”</em> (HR. Tirmidzi).</p>
<p>Tentang rumah orang dermawan yang akan dimasuki malaikat disebutkan dalam sebuah hadits bahwa malaikat akan senantiasa mendoakan mereka : Rasulullah Saw bersabda, “Tiap-tiap pagi malaikat turun, yang satu mendo’akan, “Ya Allah beri gantilah untuk yang menderma, dan yang lain berdo’a, Ya Allah Musnahkan harta si bakhil.”</p>
<p>Rumah-rumah yang di dalamnya ada kejujuran, ada kasih sayang, amanah, ada syukur dan sabar ada taubat dan istighfar akan senantiasa terbuka untuk dimasuki para malaikat sedangkan rumah-rumah yang selain itu maka maka malaikat akan menjauhi rumah tadi.</p>
<p>Rumah-rumah yang akan dijauhi malaikat misalnya, rumah yang di dalamnya ada anjing, ada patung-patung dan gambar-gambar, dan ada bau busuk di rumah itu.</p>
<p>Islam adalah agama yang cinta kebersihan sehingga mengingatkan bahayanya memiliki anjing, bahkan melarang memelihara anjing kecuali untuk kepentingan penjagaan keamanan atau pertanian. Tidak sedikit nash hadits yang menyatakan bahwa malaikat rahmat tidak akan memasuki rumah yang di dalamnya terdapat anjing dan pahala pemilik anjing akan susut atau berkurang. Rasulullah bersabda: “ Malaikat tidak akan memasuki rumah yang di dalamnya terdapat anjing dan juga tidak memasuki rumah yang didalamnya terdapat gambar (patung)&#8221; [HR. Ahmad, Bukhari, Muslim, Tirmidzi, Nasa'i dan Ibnu Majah]</p>
<p>Ibnu Hajar berkata : &#8220;Ungkapan malaikat tidak akan memasuki&#8230;.&#8221; menunjukkan malaikat secara umum (malaikat rahmat, malaikat hafazah, dan malaikat lainnya)&#8221;. Tetapi, pendapat lain mengatakan : &#8220;Kecuali malaikat hafazah, mereka tetap memasuki rumah setiap orang karena tugas mereka adalah mendampingi manusia sehingga tidak pernah berpisah sedetikpun dengan manusia. Pendapat tersebut dikemukakan oleh Ibnu Wadhdhah, Imam Al-Khaththabi, dan yang lainnya.</p>
<p>Sementara itu, yang dimaksud dengan ungkapan rumah pada hadits di atas adalah tempat tinggal seseorang, baik berupa rumah, gubuk, tenda, dan sejenisnya. Sedangkan ungkapan anjing pada hadits tersebut mencakup semua jenis anjing. Imam Qurthubi berkata : &#8220;Telah terjadi ikhtilaf di antara para ulama tentang sebab-sebabnya malaikat rahmat tidak memasuki rumah yang didalamnya terdapat anjing. Sebagian ulama mengatakan karena anjing itu najis, yang lain mengatakan bahwa ada anjing yang diserupai oleh setan, sedangkan yang lainnya mengatakan karena di tubuh anjing menempel najis.” Ummul Mukminin Aisyah radhiyallahu &#8216;anha mengatakan bahwa Rasulullah Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam telah mengadakan perjanjian dengan Jibril bahwa Jibril akan datang. Ketika waktu pertemuan itu tiba, ternyata Jibril tidak datang. Sambil melepaskan tongkat yang dipegangnya, Rasulullah Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda : &#8220;Allah tidak mungkin mengingkari janjinya, tetapi mengapa Jibril belum datang ?&#8221; Ketika Rasulullah Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam menoleh, ternyata beliau melihat seekor anak anjing di bawah tempat tidur. &#8220;Kapan anjing ini masuk ?&#8221; tanya beliau. Aku (Aisyah) menyahut : &#8220;Entahlah&#8221;. Setelah anjing itu dikeluarkan, masuklah malaikat Jibril. &#8220;Mengapa engkau terlambat ? tanya Rasulullah Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam kepada Jibril. Jibril menjawab: &#8220;Karena tadi di rumahmu ada anjing. Ketahuilah, kami tidak akan memasuki rumah yang di dalamnya terdapat anjing dan gambar (patung)&#8221; [HR. Muslim].</p>
<p>Malaikat rahmat pun tidak akan mendampingi suatu kaum yang terdiri atas orang-orang yang berteman dengan anjing. Abu Haurairah Radhiyallahu &#8216;anhu mengatakan bahwa Rasulullah bersabda : “ Malaikat tidak akan menemani kelompok manusia yang di tengah-tengah mereka terdapat anjing&#8221;. [HR Muslim]</p>
<p>Imam Nawawi mengomentari hadits tersebut : &#8220;Hadits di atas memberikan petunjuk bahwa membawa anjing dan lonceng pada perjalanan merupakan perbuatan yang dibenci dan malaikat tidak akan menemani perjalanan mereka. Sedangkan yang dimaksud dengan malaikat adalah malaikat rahmat (yang suka memintakan ampun) bukan malaikat hafazhah yang mencatat amal manusia. [Lihat Syarah Shahih Muslim 14/94]</p>
<p>Malaikat juga tidak suka masuk rumah yang berbau tidak sedap. Rasulullah Saw bersabda, “Barangsiapa yang memakan bawang putih, bawang merah, dan makanan tidak sedap lainnya, maka jangan sekali-kali ia mendekati (memasuki) masjid kami, oleh karena sesungguhnya para malaikat terganggu dari apa-apa yang mengganggu manusia.” (HR. Bukhari dan Muslim).</p>
<p>Juga adanya penghuni rumah yang mengancam saudaranya (muslim) dengan senjata. Rasulullah Saw bersabda, “Barangsiapa mengarahkan (mengancam) saudaranya (muslim) dengan benda besi (pisau misalnya), maka orang itu dilaknat oleh malaikat, sekalipun orang itu adalah saudara kandungnya sendiri.” (HR Muslim).</p>
<p>Kita semua berharap rumah kita akan senantiasa dikelilingi malaikat dan dijauhkan dari syetan laknat. Maka tidak ada cara lain bagi kita kecuali senantiasa meningkatkan bobot dan kapasitas keimanan, keislaman dan keihsanan kita, setiap detik, menit, jam, hari, minggu, bulan dan tahun. Peningkatan ini kita butuhkan karena hidup ini tidak pernah henti berputar. Waktu kita terus bergulir dan kita tidak bisa menghentikannya. Umur kita terus mengkerut dan kita tidak bisa lagi merentangnya. Hanya ada satu kata dalam kehidupan kita : beramal saleh dengan segera, tanpa ditunda!!</p>
<p><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:9pt;color:black;" lang="ES-TRAD"> </p>
<p></span><span style="font-size:9pt;color:#000000;">(Sumber : Samson Rahman, MA , http://swaramuslim.net)</span></span></span><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:9pt;color:#000000;">(Sumber : Samson Rahman, MA , http://swaramuslim.net)</span></p>
<p></span></span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/bhartoyo.wordpress.com/18/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/bhartoyo.wordpress.com/18/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/bhartoyo.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/bhartoyo.wordpress.com/18/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/bhartoyo.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/bhartoyo.wordpress.com/18/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/bhartoyo.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/bhartoyo.wordpress.com/18/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/bhartoyo.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/bhartoyo.wordpress.com/18/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/bhartoyo.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/bhartoyo.wordpress.com/18/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/bhartoyo.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/bhartoyo.wordpress.com/18/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/bhartoyo.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/bhartoyo.wordpress.com/18/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bhartoyo.wordpress.com&amp;blog=3957306&amp;post=18&amp;subd=bhartoyo&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bhartoyo.wordpress.com/2008/07/20/mengundang-kehadiran-malaikat-ke-rumah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a421482cf07d4734eb9b4e6b455cf248?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">bhartoyo</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Hakekat Diri Sejati Kita</title>
		<link>http://bhartoyo.wordpress.com/2008/06/25/hakekat-diri-sejati-kita/</link>
		<comments>http://bhartoyo.wordpress.com/2008/06/25/hakekat-diri-sejati-kita/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 25 Jun 2008 08:08:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bhartoyo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Relegion]]></category>
		<category><![CDATA[batin]]></category>
		<category><![CDATA[kedamaian]]></category>
		<category><![CDATA[Roh Kudus]]></category>
		<category><![CDATA[rohani]]></category>
		<category><![CDATA[Sejati]]></category>
		<category><![CDATA[Tuhan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bhartoyo.wordpress.com/?p=13</guid>
		<description><![CDATA[Kita tidak hanya berupa keberadaan fisik saja, tetapi kita merupakan suatu keberadaan yang berangkap-rangkap. Kita sangatlah agung dibandingkan dengan apa yang dapat kita bayangkan mengenai diri kita. Semakin dalam kita memasuki atmosfir alam yang misteri, makin banyak yang dapat kita temukan tentang diri kita: bahwa kita berada di dalam berbagai tingkat kesadaran pada waktu yang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bhartoyo.wordpress.com&amp;blog=3957306&amp;post=13&amp;subd=bhartoyo&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="MsoNormal" style="text-align:left;margin:0;"><span style="font-size:11pt;color:#6eb8ec;">K</span><span style="font-size:11pt;">ita tidak hanya berupa keberadaan fisik saja, tetapi kita merupakan suatu keberadaan yang berangkap-rangkap. Kita sangatlah agung dibandingkan dengan apa yang dapat kita bayangkan mengenai diri kita. Semakin dalam kita memasuki atmosfir alam yang misteri, makin banyak yang dapat kita temukan tentang diri kita: bahwa kita berada di dalam berbagai tingkat kesadaran pada waktu yang sama ketika kita berada di sini dan saat ini dalam planet fisik ini.</span></div>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:15pt;text-align:left;margin:0 0 0 3.75pt;"><span style="font-size:11pt;"><span id="more-13"></span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:15pt;text-align:left;margin:0 0 0 3.75pt;"><span style="font-size:11pt;" lang="ES-TRAD">Pergi ke surga bukanlah berarti kita harus pergi ke mana-mana, atau mati dulu. Kita dapat saja menyebutnya &#8216;sekarat&#8217;, tetapi kita masih tetap dapat hidup dan berfungsi di dunia ini sementara melihat surga atau menghubungi Tuhan pada waktu yang bersamaan. Dengan melalui berbagai tingkat dalam Diri kita, Kesadaran kita, kita dapat mengunjungi berbagai tempat tinggal Tuhan, dan kemudian kita akan menemukan bahwa apa yang Alkitab katakan adalah benar adanya, <em>Kita adalah kuil dari Tuhan dan Roh Kudus bersemayam di dalam diri kita.</em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:15pt;text-align:justify;margin:0 0 0 3.75pt;"><span style="font-size:11pt;" lang="ES-TRAD"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:15pt;text-align:justify;margin:0 0 0 3.75pt;"><span style="font-size:11pt;" lang="ES-TRAD">Menyenangkan mengetahui bahwa kita merupakan suatu keberadaan yang berangkap-rangkap, dan bahwa dengan sedikit latihan kita dapat melihat Diri kita yang lebih tinggi kapan saja kita kehendaki: dan ketika kita naik ke tingkat tertinggi dari Diri kita, maka kita dapat melihat Tuhan juga. Kita juga merupakan bagian dari Yang Maha Tinggi.  Pada saat kita pergi ke tingkat tertinggi, tentu saja kita akan melihat hakekat Diri sejati kita, yang mana adalah Tuhan, karena pada waktu itu, kita tidak memiliki lagi sifat keakuan manusia. Sehingga dengan cara yang sama kita dapat menghindari begitu banyak kejadian-kejadian yang tidak menyenangkan dalam hidup kita. Kita dapat menghindari berbagai penderitaan dengan naik ke tingkat yang lebih tinggi dari diri kita dan menemukan kebahagiaan di sana. Ketika kita kembali ke tingkat fisik ini, walaupun kita masih mengalami penderitaan duniawi, kita akan menjadi lebih kuat, lebih terbangkitkan secara rohani, dan kita dapat mengatasi masalah dan kedukaan kita dengan cara yang paling mudah. Itulah sebabnya Alkitab mengatakan, <em>Temukan dulu Kerajaan Tuhan dan segala sesuatu lainnya akan ditambahkan kepadamu.</em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:15pt;text-align:justify;margin:0 0 0 3.75pt;"><span style="font-size:11pt;" lang="ES-TRAD"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:15pt;text-align:justify;margin:0 0 0 3.75pt;"><span style="font-size:11pt;" lang="ES-TRAD">Misalnya rumah kita memiliki beberapa tingkat tetapi jika kita tidak pernah naik tangga untuk melihat tingkat-tingkat yang lebih tinggi, maka tentu saja kita tidak mengetahui berapa banyak kita memilikinya dan berapa banyak ruangan yang kita miliki di dalam rumah kita. Yesus berkata, <em>Di dalam rumah BapakKu, terdapat banyak tempat tinggal. </em>Ini adalah merupakan suatu cara untuk menjelaskan berbagai tingkat yang berbeda-beda dari keberadaan manusia. Jika sekarang dan kemudian, kita pergi ke tingkat kecerdasan yang lebih tinggi, lalu ketika kita kembali ke dunia fisik ini, kita akan menjadi lebih mampu, lebih bijaksana, dan lebih gembira, dengan demikian kita akan menjadi makhluk yang berbeda. Kita dapat merasakan seperti kita sedang hidup di surga sementara menyelesaikan tugas kita di planet fisik ini. Kebanyakan penderitaan dan beban derita berasal dari kekurang-pengertian kita tentang bagian yang lebih tinggi dari diri kita, bagian yang merupakan hubungan langsung dengan Tuhan. Jika kita mengetahui cara menghubungi bagian yang lebih tinggi dari diri kita ini, maka kita dapat menghubungi Tuhan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:15pt;text-align:justify;margin:0 0 0 3.75pt;"><span style="font-size:11pt;" lang="ES-TRAD"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:15pt;text-align:justify;margin:0 0 0 3.75pt;"><span style="font-size:11pt;" lang="ES-TRAD">Terdapat departemen yang berbeda di dalam Keberadaan absolut kita yang menempatkan banyak keajaiban-keajaiban. Setiap tingkat berbeda antara satu dengan lainnya dan setiap tingkat terdiri dari berbagai hal-hal yang dapat kita pergunakan bahkan dalam kehidupan fisik ini. Semua tingkat keberadaan dari Diri kita ini berada dalam waktu yang sama. Masalahnya hanyalah kita tidak memiliki suatu hubungan dengan tingkat keberadaan tersebut. Kita telah lupa bagaimana menghubungkan kembali diri kita, dan itulah sebabnya kita hanya memiliki pengetahuan akan eksistensi fisik saja.Tidaklah mengherankan bahwa kita tidak memiliki pengetahuan akan planet lainnya. Tidaklah mengherankan bahwa kita tidak memiliki pengetahuan tentang surga. Tidaklah mengherankan kita tidak dapat menemukan kedamaian secara mudah dengan sesama. Tidaklah mengherankan bahwa adakalanya kita harus memilih lagi untuk berperang.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:15pt;text-align:justify;margin:0 0 0 3.75pt;"><strong><span style="font-size:11pt;color:#6600ff;"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:15pt;text-align:justify;margin:0 0 0 3.75pt;"><strong><span style="font-size:11pt;color:#6600ff;">Bonus Latihan Rohani</span></strong><strong><span style="font-size:11pt;" lang="ES-TRAD"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:15pt;text-align:justify;margin:0 0 0 3.75pt;"><span style="font-size:11pt;" lang="ES-TRAD"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:15pt;text-align:justify;margin:0 0 0 3.75pt;"><span style="font-size:11pt;" lang="ES-TRAD">Kita semua tahu bahwa hanya sekitar lima atau sepuluh persen dari kapasitas manusia dipergunakan. Dimanakah  delapan atau sembilan puluh persen lainnya? Benar-benar mubazir. Saya berada di sini untuk menunjukkan kepada Anda bagaimana mempergunakan seluruh kebijaksanaan Anda &#8211; sisa lainnya yang delapan atau sembilan puluh persen yang tertinggal tidur. Dan hal itu sangatlah mudah bahkan anak kecil pun dapat melakukannya. Semakin banyak kita memiliki akses ke bagian kecerdasan kita yang lebih besar ini, semakin baik keberadaan manusia kita jadinya. Selain itu, hal tersebut tidak akan merugikan kita apapun karena hal-hal tersebut merupakan harta benda kita sendiri. Seperti Anda memiliki uang di bank tetapi Anda lupa dimana adanya buku cek Anda, saya hanya akan menunjukkannya kepada Anda.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:15pt;text-align:justify;margin:0 0 0 3.75pt;"><span style="font-size:11pt;" lang="ES-TRAD"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:15pt;text-align:justify;margin:0 0 0 3.75pt;"><span style="font-size:11pt;" lang="ES-TRAD">Dengan  mendalami semua sisa kebijaksanaan dari Keberadaan kita, kita akan dapat mengerti dan mengetahui Tuhan dan berkomunikasi denganNya secara langsung setiap hari. Semakin tinggi kita pergi ke dalam Kerajaan Tuhan, semakin bebas akan kita rasakan; dan semua beban dari dunia materi ini akan berkurang dan berkurang pengaruhnya terhadap kita. Bahkan keberadaan fisik kita akan menjadi lebih baik dan lebih baik. Tentu saja kita tidak ingin menemukan Tuhan hanya karena kita ingin menyembuhkan penyakit fisik saja,  tetapi juga terdapat bonus yang berlimpah di sana.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:15pt;text-align:justify;margin:0 0 0 3.75pt;"><span style="font-size:11pt;" lang="ES-TRAD"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:15pt;text-align:justify;margin:0 0 0 3.75pt;"><strong><span style="font-size:11pt;color:#6600ff;">Bagaimana Menjadi Suatu Keberadaan Sejati</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:15pt;text-align:justify;margin:0 0 0 3.75pt;"><span style="font-size:11pt;" lang="ES-TRAD"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:15pt;text-align:justify;margin:0 0 0 3.75pt;"><span style="font-size:11pt;" lang="ES-TRAD">Kebahagiaan yang kita rasakan di dalam batin setelah kita menemukan Tuhan, tidak akan mau kita tukarkan dengan seluruh dunia ini. Itulah sebabnya Alkitab menantang kita, <em>Apa gunanya seorang manusia yang menguasai seluruh dunia dan kehilangan jiwanya sendiri?</em>&#8216;Kehilangan jiwa kita&#8217; berarti kita tidak mengenali keagungan kita; kita tidak mengetahui faktor lain dalam diri kita selain badan fisik ini dan cara kehidupan fisik ini. Alkitab juga menyebutkan bahwa siapapun yang mengabaikan dunia akan memperolehnya, dan siapapun yang mengejar dunia akan kehilangannya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:15pt;text-align:justify;margin:0 0 0 3.75pt;"><span style="font-size:11pt;" lang="ES-TRAD"> Tujuan roh datang ke dunia ini adalah untuk mencari Tuhan dan tiada yang lain dapat membahagiakannya sampai roh tersebut menemukan Tuhan lagi.Tetapi ketika kita berada di dunia fisik ini dan penjara fisik badan jasmani ini, kita lupa tujuan hidup kita karena hal itu merupakan suatu pengaturan dari kekuatan negatif. Kekuatan negatif  akan menjebak kita di sini dengan segala jenis kesenangan dan khayalan, membuat kita sibuk, membuat kita menderita, dan juga membuat kita melekat terhadap kehidupan sementara ini, kesenangan sementara badan jasmani dan melupakan surga. Itulah sebabnya tidak masalah berapa banyak kekayaan yang kita miliki, tidak masalah berapa tinggi posisi kita di masyarakat, kita tidaklah pernah benar-benar gembira di sini jika kita tidak mempunyai santapan rohani pada saat yang sama. Seperti seorang kaya yang memiliki rumah yang mewah dengan banyak ruangan dan tingkat, tetapi jika ia selalu tinggal di lantai bawah yang gelap, ia tidak akan pernah melihat matahari; dan ia tidak akan pernah memiliki kesempatan untuk melihat segala harta benda yang terbentang menunggunya di tempat lainnya, tingkat-tingkat yang lebih tinggi di rumah tersebut.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:15pt;text-align:justify;margin:0 0 0 3.75pt;"><span style="font-size:11pt;" lang="ES-TRAD"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:15pt;text-align:justify;margin:0 0 0 3.75pt;"><span style="font-size:11pt;" lang="ES-TRAD">Kita merupakan keberadaan yang berangkap-rangkap: kita adalah fisik, emosi, kecerdasan, dan keberadaan rohani. Agar dapat menjadi suatu keberadaan manusia yang lengkap, agar dapat menjadi keberadaan selayak Tuhan, sebagaimana Tuhan menciptakan kita sesuai wujudNya, kita haruslah mengetahui Diri sejati kita, Diri kita yang lengkap. Kekurangan bagian manapun juga dari diri kita, maka kita tidak akan pernah bahagia; kita akan selalu merasa bahwa terdapat sesuatu yang hilang, tetapi kita tidak mengetahui apakah itu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:15pt;text-align:justify;margin:0 0 0 3.75pt;"><span style="font-size:11pt;" lang="ES-TRAD"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:14.4pt;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;" lang="ES-TRAD">Supaya dapat pergi langsung ke surga tertinggi setelah kita meninggalkan badan fisik ini, kita haruslah mengetahui surga tersebut saat ini sewaktu masih hidup. Kita dapat mengunjungi surga selama waktu senggang kita dan kemudian kembali ke badan fisik ini untuk memenuhi eksistensi kita. Dengan demikian kita akan mengetahui bahwa kita bukanlah merupakan badan fisik saja; kita merupakan anak-anak Tuhan yang sesungguhnya. Hal ini bukanlah karena kita mengetahuinya, tetapi hal ini hanyalah suatu perasaan di batin, larut bersama dengan Kekuatan Semesta, Kesatuan Semesta, sehingga kita akan menjadi makhluk yang berbeda, suatu Keberadaan yang sejati, suatu Keberadaan surgawi di planet ini. Dengan demikian kita akan tidak memiliki apapun juga tetapi kegembiraan dan kebahagiaan, bahkan sambil hidup di dunia ini.<strong></strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><em><span style="font-size:11pt;font-family:Verdana;">&#8220;Masa depan benar-benar berada di tangan kita. Tidak ada makhluk angkasa luar yang bisa berbuat apapun mengenai ini. Tidak ada Tuhan yang menghukum kita. Tidak ada insani tercerahkan yang akan memberkahi kita. Yang ada hanyalah kita sendiri. Kita harus membuat suatu pilihan, karena dengan cara itulah kita tumbuh&#8211; dengan membuat suatu pilihan yang baik.&#8221;</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:14.4pt;text-align:justify;margin:0;"><em><span style="font-size:11pt;font-family:Verdana;">~ Maha Guru Ching Hai ~</span></em><strong></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:14.4pt;text-align:justify;margin:0;"><strong><span style="font-size:11pt;color:#333333;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="font-size:11pt;color:#333333;"><br />
</span></strong></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/bhartoyo.wordpress.com/13/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/bhartoyo.wordpress.com/13/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/bhartoyo.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/bhartoyo.wordpress.com/13/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/bhartoyo.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/bhartoyo.wordpress.com/13/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/bhartoyo.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/bhartoyo.wordpress.com/13/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/bhartoyo.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/bhartoyo.wordpress.com/13/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/bhartoyo.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/bhartoyo.wordpress.com/13/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/bhartoyo.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/bhartoyo.wordpress.com/13/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/bhartoyo.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/bhartoyo.wordpress.com/13/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bhartoyo.wordpress.com&amp;blog=3957306&amp;post=13&amp;subd=bhartoyo&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bhartoyo.wordpress.com/2008/06/25/hakekat-diri-sejati-kita/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a421482cf07d4734eb9b4e6b455cf248?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">bhartoyo</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Hakekat Diri Dalam Sangkar Materialisme</title>
		<link>http://bhartoyo.wordpress.com/2008/06/25/hakekat-diri-dalam-sangkar-materialisme/</link>
		<comments>http://bhartoyo.wordpress.com/2008/06/25/hakekat-diri-dalam-sangkar-materialisme/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 25 Jun 2008 07:23:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bhartoyo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Relegion]]></category>
		<category><![CDATA[Hakekat diri]]></category>
		<category><![CDATA[marifah]]></category>
		<category><![CDATA[musyahadah]]></category>
		<category><![CDATA[tawakal]]></category>
		<category><![CDATA[Tuhan]]></category>
		<category><![CDATA[urat nadi]]></category>
		<category><![CDATA[wihdat al-wujud]]></category>
		<category><![CDATA[Wujud Batin]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bhartoyo.wordpress.com/?p=11</guid>
		<description><![CDATA[Hakekat diri Untuk mengetahui hakekat diri ini, Sufisme mengajarkan pembersihan diri yang nantinya membuka tabir hakekat Sang Pencipta. Dasarnya adalah hadits yang diriwayatkan Ali bin Abi Thalib: barang siapa mengetahui dirinya maka akan mengetahui Tuhannya. Seseorang harus berpaling dari pandangan indrawi menuju pandangan intutif dengan mata hati. Tujuannya adalah membaca sisi-sisi metafisis manusia. Klimaksnya, manusia [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bhartoyo.wordpress.com&amp;blog=3957306&amp;post=11&amp;subd=bhartoyo&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="line-height:14.4pt;text-align:justify;margin:0;"><strong><span style="font-size:11pt;color:#333333;">Hakekat diri</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:18pt;line-height:14.4pt;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;color:#333333;">Untuk mengetahui hakekat diri ini, Sufisme mengajarkan pembersihan diri yang nantinya membuka tabir hakekat Sang Pencipta. Dasarnya adalah hadits yang diriwayatkan Ali bin Abi Thalib: barang siapa mengetahui dirinya maka akan mengetahui Tuhannya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:18pt;line-height:14.4pt;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;color:#333333;">Seseorang harus berpaling dari pandangan indrawi menuju pandangan intutif dengan mata hati. Tujuannya adalah membaca sisi-sisi metafisis manusia. Klimaksnya, manusia akan mencapai </span><strong><em><span style="font-size:11pt;" lang="FR">marifah</span></em></strong><span style="font-size:11pt;color:#333333;">, yaitu mengetahui bahwa Tuhan lebih dekat ketimbang urat nadi kita (QS 50:16).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:18pt;line-height:14.4pt;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;color:#333333;"><span id="more-11"></span>Pandangan yang demikian menyebabkan apa yang ada pada realitas eksternal seperti harta, jabatan dan kenikmatan dunia lainnya hanyalah ilusi belaka. Tidak heran bila sirna sudah kecintaan terhadap hal-hal tersebut. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:18pt;line-height:14.4pt;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;color:#333333;">Berpalinglah kepada Wujud Batin. Lebih mesralah dengan Tuhan ketimbang materi keduniaan yang masih bisa direkayasa. Niscaya muncul kebaikan batin dan indrawi. Aziz Nasafi menyebutkan bahwa karena dekat dengan Tuhan, manusia pasti berprilaku baik dengan makhluk lainnya. Inilah kejernihan penglihatan mata batin.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:18pt;line-height:14.4pt;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;color:#333333;">Berbeda dengan persepsi indrawi kita, secara kasat mata bisa saja memandang seseorang itu baik. Ternyata, secara batinnya mempermainkan bahkan tidak mengamini Tuhan. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:18pt;line-height:14.4pt;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;color:#333333;">Orang-orang seperti ini sekilas terlihat baik tapi ternyata mempermainkan rakyat, menyalahgunakan jabatan. Tiada yang diperbuat melainkan kesenangan menyiksa diri sendiri.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:14.4pt;text-align:justify;margin:0;"><strong></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:14.4pt;text-align:justify;margin:0;"><strong><span style="font-size:11pt;color:#333333;">Tahapan menuju hakekat diri</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:18pt;line-height:14.4pt;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;color:#333333;">Yang harus dilakukan adalah berpaling kepada penyucian diri. Karena itu kita harus mengawali dengan penyesalan atas dosa yang diperbuat, dibarengi dengan menahan diri dari berbagai hawa nafsu, tidak rakus dan senantiasa bersyukur atas apa yang didapat.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:18pt;line-height:14.4pt;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;color:#333333;">Selain itu, perlu diketahui bahwa semua yang ada adalah milik Tuhan bukan milik kita. Karena itu tidaklah patut memakai jubah arogansi. Akan semakin baik bila diselingi kesabaran dan pemasrahan kepada Tuhan atau .</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:18pt;line-height:14.4pt;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;color:#333333;">Andai sifat-sifat terebut dimiliki maka betapa nikmatnya selalu diawasi oleh Tuhan dalam berbagai tindak-tanduk kita. Tiada lain karena sifat-sifat tadi mengkristal dalam kedekatan dan kecintaan kepada-Nya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:18pt;line-height:14.4pt;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;color:#333333;">Cinta yang demikian membuat kita takut mengotori hati sendiri, apalagi orang lain, meskipun dengan sedikit noda hitam. Al-Attas berpendapat bahwa ini adalah takut karena keagungan dan kemuliaan Tuhan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:18pt;line-height:14.4pt;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;color:#333333;">Melalui ketakuan ini, akhirnya muncul harapan dan kerinduan untuk senantiasa dekat dengan Tuhan. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:18pt;line-height:14.4pt;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;color:#333333;">Kedua sikap yang terakhir ini menyebabkan ketenangan jiwa karena mata hati telah melihat keagungan Realitas Tertinggi. Keadaan seperti ini dinamakan dengan </span><strong><em><span style="font-size:11pt;" lang="FR">musyahadah</span></em></strong><span style="font-size:11pt;" lang="FR">.<span style="color:#333333;">Bagi Suhrawardi, musyahadah ibarat terbitnya cahaya yang menerangi jiwa dan menyebabkan hilangnya keraguan.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:14.4pt;text-align:justify;margin:0;"><strong></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:14.4pt;text-align:justify;margin:0;"><strong><span style="font-size:11pt;color:#333333;">Akibat dekat dengan Tuhan</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:18pt;line-height:14.4pt;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;color:#333333;">Secara alami, tidaklah mungkin jika manusia tidak mau dekat dengan Tuhan. Ibnu Arabi mengatakan bahwa kedekatan tersebut adalah fitrah dalam hidup. Victor Emil Frankl menyebut kedekatan ini sebagai makna tertinggi kehidupan. Dalam </span><strong><em><span style="font-size:11pt;" lang="FR">Danish<span style="color:#0000ff;"> </span>nama-i Ala-i</span></em></strong><strong><span style="font-size:11pt;" lang="FR">,</span></strong><span style="font-size:11pt;color:#333333;">Ibnu Sina menambahkan bahwa kedekatan tersebut mengakibatkan kenikmatan tertinggi.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:18pt;line-height:14.4pt;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;color:#333333;">Terkadang kenikmatan tertinggi ini memunculkan rasa terlindungi. Jangankan dekat, baru sekedar menyebut Tuhan saja sudah terasa terlindungi. Joseph Stalin misalnya, orang seatheis dia saja saat pesawatnya terguncang langsung teriak menyebut nama Tuhan. Orang atheis saja merasa terlindungi karena sedikit terbesit bahwa Tuhan itu ada. Apalagi kita yang tidak atheis, tentu bisa lebih dari itu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:18pt;line-height:14.4pt;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;color:#333333;">Tapi sayang Stalin tidak agamis. Alhasil, Jules Archer mengklaim dia sebagai presiden yang sarkatis akibat tidak segan membunuh orang bahkan rela membunuh istri sendiri. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:18pt;line-height:14.4pt;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;color:#333333;">Nafsu kebinatangan seperti Stalin akan sirna bila dekat dengan Tuhan. Kedekatan dengan-Nya adalah pengakuan hanya Tuhanlah Wujud sebenarnya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:18pt;line-height:14.4pt;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;color:#333333;">Ibnu Arabi menyebut pengakuan ini dengan </span><strong><em><span style="font-size:11pt;" lang="EN">wihdat al-wujud</span></em></strong><strong><span style="font-size:11pt;" lang="EN">,</span></strong><span style="font-size:11pt;color:#333333;">yang berarti sirnanya pandangan indrawi yang merupakan ilusi dan munculnya pengetahuan </span><strong><em><span style="font-size:11pt;" lang="EN">(marifah)</span></em></strong><span style="font-size:11pt;color:#333333;">bahwa Tuhanlah Wujud segala wujud.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:18pt;line-height:14.4pt;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;color:#333333;">Pengetahuan semacam ini adalah pengetahuan tertinggi sebagaimana al-Ghazali katakan dalam </span><strong><em><span style="font-size:11pt;" lang="EN">Ihya Ulum al-Din</span></em></strong><strong><span style="font-size:11pt;" lang="EN">.</span></strong><span style="font-size:11pt;color:#333333;">al-Raghib al-Ishfahani dan Ibnu Miskawayh menambahkan bahwa semakin tinggi </span><strong><em><span style="font-size:11pt;" lang="EN">marifah</span></em></strong><span style="font-size:11pt;color:#333333;">semakin mulia amal kebajikan seseorang.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:18pt;line-height:14.4pt;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;color:#333333;">Ibnu Miskawayh menjelaskan bahwa orang yang sampai pada tingkatan ini akan mampu memperlakukan sesuatu dengan apa adanya, yaitu memperlakukan manusia sebagai manusia, memakai uang negara untuk kepentingan Negara. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:18pt;line-height:14.4pt;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;color:#333333;">Intinya menempatkan sesuatu pada tempatnya, tidak rakus dan berani melakukan sesuatu yang benar. Puncaknya adalah terbiasa dengan sikap adil. Bagi Miskawayh sikap ini adalah gabungan dari sikap-sikap terpuji sebelumnya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:18pt;line-height:14.4pt;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;color:#333333;">Jika sudah adil maka kerusakan apalagi yang terjadi. Niscaya pudar sudah kezhaliman karena manusia sudah menemui hakekat dirinya.</span></p>
<p>Sumber :</p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:14.4pt;text-align:justify;margin:0;"><em><span style="font-size:11pt;color:#333333;font-family:'Times New Roman';">Erdy Nasyrul</span></em></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/bhartoyo.wordpress.com/11/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/bhartoyo.wordpress.com/11/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/bhartoyo.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/bhartoyo.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/bhartoyo.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/bhartoyo.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/bhartoyo.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/bhartoyo.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/bhartoyo.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/bhartoyo.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/bhartoyo.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/bhartoyo.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/bhartoyo.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/bhartoyo.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/bhartoyo.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/bhartoyo.wordpress.com/11/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bhartoyo.wordpress.com&amp;blog=3957306&amp;post=11&amp;subd=bhartoyo&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bhartoyo.wordpress.com/2008/06/25/hakekat-diri-dalam-sangkar-materialisme/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a421482cf07d4734eb9b4e6b455cf248?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">bhartoyo</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Tentukanlah Arah Kiblat dengan posisi Matahari</title>
		<link>http://bhartoyo.wordpress.com/2008/06/25/tentukanlah-arah-kiblat-dengan-posisi-matahari/</link>
		<comments>http://bhartoyo.wordpress.com/2008/06/25/tentukanlah-arah-kiblat-dengan-posisi-matahari/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 25 Jun 2008 06:13:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bhartoyo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Relegion]]></category>
		<category><![CDATA[Barat]]></category>
		<category><![CDATA[koordinat Makkah]]></category>
		<category><![CDATA[Makkah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bhartoyo.wordpress.com/?p=10</guid>
		<description><![CDATA[Pada pekan terakhir bulan Mei ini terbuka kesempatan bagi kaum Muslimin di seluruh wilayah Indonesia Barat dan Tengah untuk mengamati langsung arah kiblat. Ketika itu, mulai tanggal 26 sampai 30 Mei, sekitar pukul 16.18 WIB, matahari tepat di atas Makkah.  Jika kita menghadap ke arah matahari pada waktu itu, kita menghadap ke arah kiblat. Ini [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bhartoyo.wordpress.com&amp;blog=3957306&amp;post=10&amp;subd=bhartoyo&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="line-height:12pt;margin:0;">
<div class="MsoNormal" style="line-height:12pt;margin:0;"><span style="color:#000000;font-family:Helv;"><span style="font-size:x-small;"><span style="color:#000000;font-family:Helv;">Pada pekan terakhir bulan Mei ini terbuka kesempatan bagi kaum Muslimin di seluruh wilayah Indonesia Barat dan Tengah untuk mengamati langsung arah kiblat. Ketika itu, <strong>mulai tanggal 26 sampai 30 Mei, sekitar pukul 16.18 WIB, matahari tepat di atas Makkah.</strong></span></span></span></div>
<p><span style="color:#000000;font-family:Helv;"><span style="font-size:x-small;"></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:12pt;text-align:justify;margin:0;"><span style="color:#000000;font-family:Helv;"> </span><span style="color:#000000;font-family:Helv;">Jika kita menghadap ke arah matahari pada waktu itu, kita menghadap ke arah kiblat. Ini mudah dipahami dengan membayangkan ada menara yang sangat tinggi menjulang dari Kabah ke langit mencapai matahari. Kesempatan mengamati langsung arah kiblat ini dapat dimanfaatkan untuk mengecek apakah arah kiblat yang kita pakai selama ini sudah tepat atau perlu dikoreksi.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:12pt;text-align:justify;margin:0;"><span style="color:#000000;font-family:Helv;"> <span id="more-10"></span></span><span style="color:#000000;font-family:Helv;">Matahari telah digunakan sejak berabad-abad lalu oleh kaum Muslimin di seluruh dunia untuk menentukan arah kiblat. Teknik memakai matahari ini mengharuskan cuaca cukup cerah dan terkadang harus dilakukan di ruang terbuka. Itulah mungkin yang menjadi penyebab mengapa teknik ini kalah populer dibandingkan dengan menggunakan kompas.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:12pt;text-align:justify;margin:0;"><span style="color:#000000;font-family:Helv;"> </span><span style="color:#000000;font-family:Helv;">Namun, tidak banyak orang menyadari bahwa kompas memiliki kelemahan dari sisi akurasi. Pertama, kompas dipengaruhi benda-benda logam, seperti perabotan rumah, dinding bangunan, atau tertanam di bawah tanah. Kedua, sudut arah kiblat (yang harus diperhitungkan untuk memperoleh arah kiblat yang benar) hanya dapat ditentukan dari arah utara sebenarnya (utara geografis) dan arah ini tidak dapat ditentukan dengan kompas.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:12pt;text-align:justify;margin:0;"><span style="color:#000000;font-family:Helv;"> </span><span style="color:#000000;font-family:Helv;">Kompas menunjuk ke utara magnetik yang berubah terus dan kadang berperilaku acak sehingga nilainya bisa berbeda beberapa derajat dari arah utara sebenarnya. Ini menuntut koreksi.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:12pt;text-align:justify;margin:0;"><span style="color:#000000;font-family:Helv;"> </span><span style="color:#000000;font-family:Helv;">Ada dua teknik penggunaan matahari untuk penentuan arah kiblat yang biasa digunakan. Pertama, menggunakan posisi matahari ketika berada di atas Makkah. Kedua, menggunakan matahari (untuk menentukan arah timur-barat) dan sudut arah kiblat.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:12pt;text-align:justify;margin:0;"><span style="color:#000000;font-family:Helv;">Teknik pertama sangat mudah. Tinggal memandang ke arah matahari pada waktu yang tepat, maka arah kiblat diperoleh. Teknik kedua lebih rumit karena butuh perhitungan sudut arah kiblat yang bergantung pada posisi pengamat kendati secara umum teknik kedua ini memiliki rentang waktu pengamatan lebih panjang.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:12pt;text-align:justify;margin:0;"><span style="color:#000000;font-family:Helv;">Sebagai contoh, di Indonesia teknik ini dapat digunakan setiap hari asal cuaca cukup cerah. Seperti dituliskan di awal tulisan ini, matahari berada di atas Makkah mulai pada 26-30 Mei sekitar pukul 16.18 WIB tiap tahun.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:12pt;text-align:justify;margin:0;"><span style="color:#000000;font-family:Helv;">Jika di waktu itu orang-orang yang mengalami siang hari (misalnya Indonesia Barat dan Tengah) menghadap ke arah matahari, mereka juga menghadap ke arah kiblat. Selain bulan Mei, masih ada waktu lain ketika matahari berada di atas Makkah, </span><strong><span style="font-family:Helv;">yakni mulai tanggal 14 sampai 18 Juli sekitar pukul 16.27 WIB tiap tahun.</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:12pt;text-align:justify;margin:0;"><span style="color:#000000;font-family:Helv;">Kembali di waktu itu orang-orang yang mengalami siang hari dapat memanfaatkan matahari untuk menentukan arah kiblat mereka. Mereka yang dapat memanfaatkan waktu-waktu tadi adalah yang berada paling jauh sekitar 10 ribu kilometer dari Makkah ke arah mana saja. Dengan kata lain, mereka berada di belahan bumi (hemisfer) yang berpusat di Makkah ketika matahari berada di atas Makkah.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:12pt;text-align:justify;margin:0;"><span style="color:#000000;font-family:Helv;">Selain Indonesia Barat dan Tengah, belahan bumi ini juga meliputi seluruh Afrika, Eropa, dan hampir seluruh Asia. Bagaimana dengan daerah yang mengalami malam ketika matahari berada di atas Makkah, misalnya Papua?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:12pt;text-align:justify;margin:0;"><span style="color:#000000;font-family:Helv;">Di daerah itu ada waktu-waktu ketika matahari tepat berada di atas titik yang berseberangan dengan Makkah (di belahan bumi yang lain). Titik yang dinamakan antipode Makkah ini berada di Samudera Pasifik tepatnya di koordinat 21,42 LS dan 140,17 BB (koordinat Makkah 21.43 LU dan 39.75 BT).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:12pt;text-align:justify;margin:0;"><span style="color:#000000;font-family:Helv;">Matahari tepat berada di atas antipode Makkah mulai tanggal 12 sampai 16 Januari sekitar pukul 06.30 WIT dan mulai tanggal 27 Nopember hingga 1 Desember sekitar pukul 06.09 WIT tiap tahun. Karena posisi matahari berlawanan dengan posisi Makkah, maka arah kiblatnya bukan arah ke matahari, melainkan arah yang membelakangi matahari.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:12pt;text-align:justify;margin:0;"><span style="color:#000000;font-family:Helv;"> </span><span style="color:#000000;font-family:Helv;">Selain Papua, belahan bumi yang mengalami siang ketika matahari berada di atas antipode Makkah juga meliputi sebagian besar Australia dan sebagian besar Amerika Utara dan Selatan. Pada praktiknya, penentuan arah kiblat memakai matahari digunakan alat dari tiang lurus yang berdiri tegak di atas papan yang datar (bisa diperoleh dengan bantuan waterpass) untuk membentuk bayangan tiang pada papan. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:12pt;text-align:justify;margin:0;"><span style="color:#000000;font-family:Helv;">Bayangan inilah (sering disebut bayangan matahari) yang akan digunakan untuk menentukan arah kiblat. Jika pengukuran dilakukan di sebuah bangunan (misalnya masjid) dan kondisi bangunan memungkinkan, dapat digunakan kusen jendela (di masjid biasanya ada yang terletak di depan posisi imam), kusen pintu, atau sisi bangunan (sebagai ganti tiang) untuk membentuk bayangan pada lantai.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:12pt;text-align:justify;margin:0;"><span style="color:#000000;font-family:Helv;"> </span><span style="color:#000000;font-family:Helv;">Tentu ini baru bisa dilakukan jika dianggap bagian kusen itu bentuknya lurus dan posisinya tegak di atas lantai bangunan yang juga bisa dianggap datar. Jika pengukuran dapat dilakukan dengan memakai bangunan saja, tentu saja sangat memudahkan dibanding dengan menggunakan alat.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:12pt;text-align:justify;margin:0;"><span style="color:#000000;font-family:Helv;"> </span><span style="color:#000000;font-family:Helv;">Untuk daerah yang mengalami siang ketika matahari di atas Makkah (Mei dan Juli) arah kiblat adalah arah dari ujung bayangan ke tiang. Sebaliknya, untuk daerah yang mengalami malam ketika matahari di atas Makkah (Januari dan November) arah kiblat adalah arah dari tiang ke ujung bayangan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:12pt;text-align:justify;margin:0;"><span style="color:#000000;font-family:Helv;"> </span><span style="color:#000000;font-family:Helv;">Berbeda dengan teknik pertama (memakai matahari saja) yang waktu pengamatannya sangat terbatas, teknik kedua (memakai matahari dan sudut arah kiblat) waktu pengamatannya bisa lebih lama. Pada teknik ini matahari digunakan untuk menentukan arah timur-barat dengan alat yang biasanya terdiri dari tiang setinggi 10-20 cm yang ditancapkan tegak lurus di atas sebidang papan datar bergambar sebuah lingkaran yang berpusat di tiang.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:12pt;text-align:justify;margin:0;"><span style="color:#000000;font-family:Helv;"> </span><span style="color:#000000;font-family:Helv;">Arah timur-barat ditunjukkan oleh garis yang menghubungkan ujung bayangan tiang ketika menyentuh lingkaran sebelum tengah hari dengan ujung bayangan tiang ketika menyentuh lingkaran setelah tengah hari. Penggunaan beberapa lingkaran akan memberikan hasil lebih baik.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:12pt;text-align:justify;margin:0;"><span style="color:#000000;font-family:Helv;"> </span><span style="color:#000000;font-family:Helv;">Setelah arah timur-barat diketahui, arah ke Makkah dapat diperoleh dengan menambahkan sudut arah kiblat dari arah barat ke utara. Sudut arah kiblat yang digunakan pada teknik kedua (juga digunakan pada kompas untuk memperoleh hasil yang benar) dapat diperoleh melalui perhitungan astronomis sederhana.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:12pt;text-align:justify;margin:0;"><span style="color:#000000;font-family:Helv;"> </span><span style="color:#000000;font-family:Helv;">Dewasa ini banyak program telah dikembangkan orang untuk menghitung sudut arah kiblat, misalnya program Accurate Times yang dibuat Mohammad Odeh dan dapat diperoleh di http://www.jas.org.jo/accut.html. Ada pula situs yang menyediakan fasilitas menghitung sudut arah kiblat secara online, misalnya, http://www.qibla.com.br/. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:12pt;text-align:justify;margin:0;"><span style="color:#000000;font-family:Helv;"> </span><span style="color:#000000;font-family:Helv;">Ikhtisar:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:12pt;text-align:justify;margin:0;"><span style="color:#000000;font-family:Helv;">- Penentuan arah kiblat dengan menggunakan kompas sering tidak akurat. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="color:#000000;font-family:Helv;">- Hari ini menjadi kesempatan yang mudah untuk mengoreksi arah kiblat yang lebih tepat dan akurat.</span></p>
<div><span style="color:#000000;font-family:Helv;"> </p>
<p></span></div>
<div><span style="color:#000000;font-family:Helv;"></span></div>
<p><span style="color:#000000;font-family:Helv;"><span style="font-size:x-small;"></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:12pt;margin:0;"> Sumber :</p>
<div class="MsoNormal" style="line-height:12pt;margin:0;"><span style="color:#000000;font-family:Helv;"><span style="font-size:x-small;"><span style="color:#000000;font-family:Helv;">Abdul Rachman</span></span></span></div>
<div class="MsoNormal" style="line-height:12pt;margin:0;">
<div class="MsoNormal" style="line-height:12pt;margin:0;"><span style="color:#000000;font-family:Helv;"><span style="font-size:x-small;"><span style="color:#000000;font-family:Helv;">Peneliti Bidang Matahari dan Antariksa di Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN)</span></span></span></div>
</div>
<div><span style="color:#000000;font-family:Helv;"><span style="font-size:x-small;"><span style="color:#000000;font-family:Helv;"><span style="font-size:x-small;"> </span></span></span></span></div>
<p><span style="color:#000000;font-family:Helv;"><span style="font-size:x-small;"><span style="color:#000000;font-family:Helv;"><span style="font-size:x-small;"></p>
<div><span style="color:#000000;font-family:Helv;"><span style="font-size:x-small;"><span style="color:#000000;font-family:Helv;"> </span></span></span></div>
<p></span></span></span></span></span><span style="color:#000000;font-family:Helv;"><span style="font-size:x-small;"><span style="color:#000000;font-family:Helv;"> </p>
<p></span></span></span></span></p>
<div><span style="color:#000000;font-family:Helv;"><span style="font-size:x-small;"> </span></span></div>
<p><span style="color:#000000;font-family:Helv;"><span style="font-size:x-small;"></p>
<div><span style="color:#000000;font-family:Helv;"> </span></div>
<p></span></span></span><span style="color:#000000;font-family:Helv;"> </p>
<p></span></span></p>
<p> </p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:12pt;margin:0;"> </p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/bhartoyo.wordpress.com/10/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/bhartoyo.wordpress.com/10/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/bhartoyo.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/bhartoyo.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/bhartoyo.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/bhartoyo.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/bhartoyo.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/bhartoyo.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/bhartoyo.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/bhartoyo.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/bhartoyo.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/bhartoyo.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/bhartoyo.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/bhartoyo.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/bhartoyo.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/bhartoyo.wordpress.com/10/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bhartoyo.wordpress.com&amp;blog=3957306&amp;post=10&amp;subd=bhartoyo&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bhartoyo.wordpress.com/2008/06/25/tentukanlah-arah-kiblat-dengan-posisi-matahari/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a421482cf07d4734eb9b4e6b455cf248?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">bhartoyo</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>&#8220;Aku melihat Tuhanku dengan Mata Tuhanku.&#8221;</title>
		<link>http://bhartoyo.wordpress.com/2008/06/17/islam-liberal-menurut-hartono-ahmad-jaiz/</link>
		<comments>http://bhartoyo.wordpress.com/2008/06/17/islam-liberal-menurut-hartono-ahmad-jaiz/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 17 Jun 2008 01:16:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bhartoyo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Relegion]]></category>
		<category><![CDATA[Allah]]></category>
		<category><![CDATA[ma'rifat]]></category>
		<category><![CDATA[Tuhanmu]]></category>
		<category><![CDATA[Wajah Allah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bhartoyo.wordpress.com/?p=9</guid>
		<description><![CDATA[Kata melihat disebut dengan berbagai versi dalam bahasa Arab, dan Al-Qur&#8217;an. Melihat berarti dengan mata kita. Sedangkan mata kita ada tiga. Mata kepala, mata analisa fikiran, mata hati. Dalam konteks hubungan dengan &#8220;Melihat Allah&#8221; dan &#8220;Seakan-akan melihat Allah&#8221;, maka ada sejumlah ayat, misalnya ketika Nabi Musa as, berhasrat ingin melihat Allah. &#8220;Musa as berkata: Ya [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bhartoyo.wordpress.com&amp;blog=3957306&amp;post=9&amp;subd=bhartoyo&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-size:14pt;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span style="font-size:small;"></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="color:#333333;" lang="ES-TRAD"><span style="font-size:x-small;"><span style="font-family:Arial;">Kata melihat disebut dengan berbagai versi dalam bahasa Arab, dan Al-Qur&#8217;an. Melihat berarti dengan mata kita. Sedangkan mata kita ada tiga. Mata kepala, mata analisa fikiran, mata hati.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="color:#333333;" lang="ES-TRAD"><br />
<span style="font-size:x-small;"><span style="font-family:Arial;">Dalam konteks hubungan dengan &#8220;Melihat Allah&#8221; dan &#8220;Seakan-akan melihat Allah&#8221;, maka ada sejumlah ayat, misalnya ketika Nabi Musa as, berhasrat ingin melihat Allah. <strong>&#8220;Musa as berkata: Ya Tuhan, tampakkan diriMu padaKu, aku ingin memandangMu.&#8221; Allah menjawab, &#8220;Kamu tidak bisa melihatKu.&#8221; (al-A&#8217;raf 143).</strong></span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="color:#333333;" lang="ES-TRAD"><span id="more-9"></span><br />
<span style="font-size:x-small;"><span style="font-family:Arial;">Ayat lain menyebutkan: <strong>&#8220;Sesungguhnya Akulah Tuhanmu, maka lepaskanlah sandalmu, sesungguhnya kamu berada di lembah yang suci.&#8221; (Thaha 12)</strong></span></span></span></p>
<p><span style="font-size:14pt;"><font face="Times New Roman"><font size="3"></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="color:#333333;" lang="ES-TRAD"><br />
<span style="font-size:x-small;"><span style="font-family:Arial;">Dan dia berkata, &#8220;Sesungguhnya aku akan menyaksikan Allah, dan saksikanlah bahwa sesungguhnya Aku bebas dari kemusyrikan kamu padaKu, melalui selain Dia.&#8221;</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="color:#333333;" lang="ES-TRAD"><br />
<span style="font-size:x-small;"><span style="font-family:Arial;">Ayat lain menyebutkan, <strong>&#8220;Kemana pun engkau menghadap, disanalah Wajah Allah.&#8221;(Al-Baqarah 115)</strong></span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><strong><span style="color:#333333;" lang="ES-TRAD"><br />
<span style="font-size:x-small;"><span style="font-family:Arial;">&#8220;Sesungguhnya aku hadapkan wajahku kepada Dzat yang menciptakan langit dan bumi dengan penuh kepatuhan.&#8221; (Al-An&#8217;aam 79)</span></span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="color:#333333;" lang="ES-TRAD"><br />
<span style="font-size:x-small;"><span style="font-family:Arial;">Nabi Musa as, gagal ketika hasratnya menggebu ingin melihat Allah, lalu Allah menjawab, &#8220;Kamu tidak bisa melihatKu.&#8221;. Dengan kata lain &#8220;Kamumu&#8221; atau &#8220;Akumu&#8221; tidak bisa melihatKu. Karena itu Abu Bakr ash-Shiddiq ra berkata, &#8220;Aku melihat Tuhanku dengan Mata Tuhanku.&#8221; yang berarti bahwa hanya dengan Mata Ilahi saja kita bisa MelihatNya.</p>
<p>Dimaksud dengan &#8220;Mata Ilahi&#8221; adalah Mata Hati kita yang diberi hidayah dan &#8216;inayah oleh Allah SWT untuk terbuka, dan senantiasa di sana hanya Wajah Allah yang tampak, sebagaimana dalam Al-Qur&#8217;an. Ibnu Athaillah menggambarkan secara bijak:</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="color:#333333;" lang="ES-TRAD"><br />
<span style="font-size:x-small;"><span style="font-family:Arial;">&#8220;Alam semesta ini gelap, dan sebenarnya menjadi terang karena dicahayai Allah di dalamnya. Karena itu siapa yang melihat semesta, namun tidak menyaksikan Allah di dalamnya, atau di sisinya, atau sebelum dan sesudahnya, benar-benar ia telah dikaburkan dari wujud Cahaya, dan tertutup dari matahari ma&#8217;rifat oleh mendung-mendung duniawi semesta.&#8221;</p>
<p>Karena itu soal &#8220;Menyaksikan Allah&#8221; hubungannya erat dengan tersingkapnya tirai hijab, yang menghalangi diri hamba dengan Allah, walaupun Allah sesungguhnya tidak bisa dihijabi oleh apa pun. Karena jika ada hijab yang bisa menutupi Allah, berarti hijab itu lebih besar dan lebih hebat dibanding Allah.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="color:#333333;" lang="ES-TRAD"><br />
<span style="font-size:x-small;"><span style="font-family:Arial;">Oleh sebab itu, dalam menggambarkan Musyahadah (penyaksian Ilahi) ini, Rasulullah menggunakan kata, &#8220;Seakan-akan&#8221;, karena mata kepala kita dan mata nafsu kita, keakuan kita pasti tak mampu. Kata-kata &#8220;Seakan-akan&#8221; lebih dekat sebagai<br />
bentuk kata untuk sebuah kesadaran jiwa dan kedekatan hati.Tetapi ketika Rasulullah bersabda, &#8220;Jika kamu tidak melihatNya, kamu harus yakin bahwa Dia melihatmu.&#8221;. Rasul SAW tidak menyabdakan, &#8220;Seakan-akan melihatmu.&#8221;.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="color:#333333;" lang="ES-TRAD"><br />
<span style="font-size:x-small;"><span style="font-family:Arial;">Hal ini menunjukkan bahwa sebuah kedekatan atau taqarrub sampai-sampai seakan-akan melihatNya, adalah akibat dari kesadaran kuat bahwa &#8220;Dialah yang melihat kita.&#8221; Kesadaran jiwa bahwa Allah SWT melihat kita terus menerus, menimbulkan<br />
pantulan pada diri kita, yang membukakan matahati kita dan sirr kita untuk memandangNya.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="color:#333333;" lang="ES-TRAD"><span style="font-size:x-small;font-family:Arial;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="color:#333333;" lang="ES-TRAD"><span style="font-size:x-small;"><span style="font-family:Arial;">Kesadaran Memandang Allah, kemudian mengekspresikan sebuah pengalaman demi pengalaman yang berbeda-beda antar para Sufi, sesuai dengan tingkat haliyah ruhaniyah (kondisi ruhani) masing-masing. Ada yang menyadari dalam pandangan<br />
tingkat Asma Allah, ada pula sampai ke Sifat Allah, bahkan ada yang sampai ke Dzat Allah. Lalu kemudian turun kembali melihat Sifat-sifatNya, kemudian Asma&#8217;-asmaNya, lalu melihat semesta makhlukNya.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="color:#333333;" lang="ES-TRAD"><span style="font-size:x-small;"><span style="font-family:Arial;">Lalu kita perlu mengoreksi diri sendiri lewat perkataan Abu Yazid al-Bisthamy, &#8220;Apa pun yang engkau bayangkan tentang Allah, Dia bertempat, berwarna, berpenjuru, bertempat, bergerak, diam, itu semua pasti bukan Allah SWT. Karena sifat-sifat tersebut adalah sifat makhluk.&#8221;</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="color:#333333;" lang="ES-TRAD"><span style="font-size:x-small;font-family:Arial;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="color:#333333;" lang="ES-TRAD"><span style="font-size:x-small;"><span style="font-family:Arial;">Kontemplasi demi kontemplasi tanpa bimbingan ruhani seorang Mursyid yang Kamil Mukammil hanya akan menggapai kebuntuan jalan dalam praktek Muroqobah, Musyahadah maupun Ma&#8217;rifah.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="color:#333333;" lang="ES-TRAD"><br />
<span style="font-size:x-small;"><span style="font-family:Arial;">Bagi mereka yang dicahayai oleh Allah maka digambarkan oleh Ibnu Athaillah dalam al-Hikam:</p>
<p>&#8220;Telah terpancar cahayanya dan jelaslah kegembiraanya, lalu ia pejamkan matanya dari dunia dan berpaling darinya, sama sekali dunia bukan tempat tinggal dan bukan tempat<br />
ketentraman. Namun ia jiwanya bangkit di dalam dunia itu, semata menuju Allah Ta&#8217;ala, berjalan di dalamnya sembari memohon pertolongan dari Allah untuk datang kepada Allah.</p>
<p>Hamparan tekadnya tak pernah terhenti, dan selamanya berjalan, sampai lunglai di hadapan Hadratul Quds dan hamparan kemeseraan denganNya, sebagai tempat Mufatahah, Muwajahah, Mujalasah, Muhadatsah, Musyahadah, dan Muthala&#8217;ah.&#8221;</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="color:#333333;" lang="ES-TRAD"><br />
<span style="font-size:x-small;"><span style="font-family:Arial;">Ibnu Athaillah menyebutkan enam hal dalam soal hubungan hamba dengan Allah di hadapan Allah, yang harus dimaknai dengan rasa terdalam, untuk memahami dan membedakan satu dengan yang lain. Bukan dengan fikiran:</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="color:#333333;" lang="ES-TRAD"><br />
<span style="font-size:x-small;"><span style="font-family:Arial;">Mufatahah: artinya, permulaan hamba menghadapNya di hamparan remuk redam dirinya dan munajat, lalu Allah membukakan tirai hakikat Asma, Sifat dan keagungan DzatNya, agar hamba luruh di sana dan lupa dari segala yang ada bersamaNya.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="color:#333333;" lang="ES-TRAD"><br />
<span style="font-size:x-small;"><span style="font-family:Arial;">Muwajahah, artinya saling berhadapan, adalah sikap menghadapnya hamba pada Tuhannya tanpa sedikit dan sejenak pun berpaling dariNya, tanpa alpa dari mengingatNya. Allah menemui dengan CahayaNya dan hamba menghadapnya dengan Sirrnya, hingga sama sekali tidak ada peluang untuk melihat selainNya, dan tidak menyaksikan kecuali hanya Dia.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="color:#333333;" lang="ES-TRAD"><br />
<span style="font-size:x-small;"><span style="font-family:Arial;">Mujalasah, artinya menetap dalam majlisNya dengan tetap teguh terus berdzikir tanpa alpa, patuh tunduk tanpa lalai, beradab penuh tanpa tergoda, dan hamba memuliakanNya seperti penghormatan cinta dan kemesraan agung, lalu disanalah Allah<br />
swt berfirman dalam hadits Qudsi, &#8220;Akulah berada dalam majlis yang berdzikir padaKu.&#8221;</p>
<p>Muhadatsah, maknanya dialog, yaitu menempatkan sirr (rahasia batin) dengan mengingatNya dan menghadapNya dengan hal-hal yang ditampakkan Allah pada sirr itu, hingga cahayaNya meluas dan rahasia-rahasiaNya bertumpuan. Inilah yang<br />
disabdakan Nabi saw, &#8220;Pada ummat-ummat terdahulu ada kalangan disebut sebagai kalangan yang berdialog dengan Allah, dan pada ummatku pun ada, maka Umar diantaranya.&#8221;</p>
<p>Musyahadah, adalah ketersingkapan nyata, yang tidak lagi butuh bukti dan penjelasan, tak ada imajinasi maupun keraguan. Dikatakan, &#8220;Syuhud itu dari penyaksian yang disaksikan dan tersingkapnya Wujud.&#8221;</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="color:#333333;" lang="ES-TRAD"><br />
<span style="font-size:x-small;font-family:Arial;">Muthala&#8217;ah, adalah keselarasan dengan Tauhid dalam setiap kepatuhan, ketaatan dan batin, semuanya kembali pada hakikat tanpa adanya kontemplasi atau analisa, dan setiap yang tampak senantiasa muncul rahasiaNya karena keparipurnaanNya. Wallahu A&#8217;lam.</p>
<p>Maka Hadrat Ilahi, telah menjadi kehidupan hatinya, dimana mereka tenteram dan tinggal. </span></span><span style="color:#333333;"><span style="font-size:x-small;"><span style="font-family:Arial;">Renungkan semua ini dengan hati yang suci</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="color:#333333;"><span style="font-size:x-small;font-family:Arial;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:7.5pt;color:#333333;font-family:Verdana;" lang="EN-GB">Powered by <a href="http://www.gagakmas.org/"><span style="color:#242424;">Gagak Mas Harum Gumilang</span></a></span><span lang="EN-GB"></span></p>
<p class="MsoTitle" style="margin:0;" dir="ltr"> </p>
<p></font></font></span></span><span style="font-size:14pt;"><font face="Times New Roman"></p>
<p class="MsoTitle" style="margin:0;" dir="ltr"> </p>
<p></font></span></span></p>
<p class="MsoTitle" style="margin:0;" dir="ltr"> </p>
<p></span></p>
<p class="MsoTitle" style="margin:0;" dir="ltr">
<div id="ftn25">
<p class="MsoFootnoteText" style="direction:ltr;unicode-bidi:embed;text-align:justify;margin:0;" dir="ltr"> </p>
</div>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/bhartoyo.wordpress.com/9/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/bhartoyo.wordpress.com/9/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/bhartoyo.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/bhartoyo.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/bhartoyo.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/bhartoyo.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/bhartoyo.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/bhartoyo.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/bhartoyo.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/bhartoyo.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/bhartoyo.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/bhartoyo.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/bhartoyo.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/bhartoyo.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/bhartoyo.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/bhartoyo.wordpress.com/9/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bhartoyo.wordpress.com&amp;blog=3957306&amp;post=9&amp;subd=bhartoyo&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bhartoyo.wordpress.com/2008/06/17/islam-liberal-menurut-hartono-ahmad-jaiz/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a421482cf07d4734eb9b4e6b455cf248?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">bhartoyo</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
