Barang siapa yang mengerjakan dosa, maka sesungguhnya ia mengerjakan untuk dirinya sendiri. Dan Allah maha mengetahui lagi Maha Bijaksana.
(QS An Nisa : 111).
Karena hati Laksana raja, sangat rentan terhadap penyakit yang terus mengintainya. Maka menjaga hati dari setiap penyakit ádalah sesuatu yang Sangat penting.
Dan penyakit yang Sangat berbahaya bagi manusia ádalah penyakit hati.
Dalam surat Al-Muthaffifin ayat 14, Al-Qur’an menyatakan, yang artinya,
“Sekali-kali tidak demikian, sebenarnya apa yang selalu mereka kerjakan itu menutupi hatinya”.
Allah SWT menyampaikan hal ini setelah menceritakan sekelompok manusia kafir yang enggan beriman dengan hari kiamat. Keengganan itu disebabkan karena mereka melampaui batas dalam melakukan yang haram dan berlebihan dalam hal-hal yang mubah.
Serta berdosa dalam ucapannya, bila berbicara ia berdusta, bila berjanji ingkar dan bila bersengketa berbuat curang. Sehingga Allah SWT menutup hatinya karena perbuatannya itu. Demikian pernyataan Ibnu Katsir dalam tafsirnya.
Rasulullah SAW bersabda : “Seorang hamba bila berbuat dosa, timbullah satu titik hitam dalam hatinya. Bila dia bertaubat dari perbuatan itu, hatinya akan kembali bersih. Namun bila menambah perbuatan (dosa) nya, bertambah pula titik hitam tadi.”.
Maksudnya, bahwa efek dari kemaksiatan adalah mata hati menjadi tertutup, sehingga tidak dapat melihat kebenaran.
Untuk di akhirat kelak dia akan terhalang, tidak dapat melihat kenikmatan yang agung, yaitu melihat Allah SWT. Dalam Al-qur’an Allah SWT menyatakan, yang artinya: “Sekali-kali tidak, sesungguhnya mereka dihari itu (kiamat) benar-benar terhalang dari Tuhan semesta”. (QS Al-Muthaffifin:15).
Imam Syafi’i menjadikan ayat ini sebagai dalil bahwa orang-orang yang beriman pada hari itu (kiamat) akan melihat Tuhan mereka yang Maha Gagah dan Maha Perkasa. Hal ini ditunjukkan oleh makna yang tersurat dari firman Allah SWT yang artinya, “ Wajah-wajah pada hari itu berseri-seri. Kepada Tuhannyalah mereka melihat”. (QS Al-Qiyamah:22-23)”.
Ibnul Qoyyim al-Jauziyah menyatakan dalam al-Jawabu al-Kafi, bahwa orang yang bergelimang dengan dosa akan berdampak:
- Terhalang dari ilmu Allah, karena ilmu itu ádalah cahaya, sedang kemaksiatan itu memadamkannya.
- Kemaksiatan dan perbuatan keji akan menjatuhkan seseorang dari manusia yang lain.
- Jika seseorang sudah tidak menganggap keburukan itu dosa, maka terukirlah dalam hatinya bahwa kejahatan itu sebagai suatu hal yang biasa yang dia senangi.
- Kemaksiatan akan berakibat kehinaan.
- Seseorang tidak akan mendapatkan manisnya iman, ketaatan dan ibadahnya.
- Kemaksiatan akan melahirkan kemaksiatan yang lain.
- Allah akan melupakan dia dan membiarkannya untuk bersenang-senang dengan hawa nafsu dan setannya dan malaikat tidak akan mendekatinya serta tidak pula mendoakannya.
- Sesungguhnya kemaksiatan itu akan membuat mata hatinya menjadi buta.
- Akan hilangnya keberkahan umur.
- Sesungguhnya kemaksiatan memberikan suatu tanda hitam di wajah dan kelam di hati, serta kurang mendapat rezki.
Allah mewajibkan manusia untuk Puasa Ramadhan. Diperintahkan kepada manusia mencapai derajat ketakwaan. Puasa Ramadhan dapat menjadikan manusia bersih jiwanya, karena telah terlatih menahan nafsu, sehingga dapat dipakai sarana membersihkan jiwa atau hati.
Sumber: Dra S Hafsah Budi A SPSI MSi, Dosen Fakultas Psikologi UST).