Hakekat diri
Untuk mengetahui hakekat diri ini, Sufisme mengajarkan pembersihan diri yang nantinya membuka tabir hakekat Sang Pencipta. Dasarnya adalah hadits yang diriwayatkan Ali bin Abi Thalib: barang siapa mengetahui dirinya maka akan mengetahui Tuhannya.
Seseorang harus berpaling dari pandangan indrawi menuju pandangan intutif dengan mata hati. Tujuannya adalah membaca sisi-sisi metafisis manusia. Klimaksnya, manusia akan mencapai marifah, yaitu mengetahui bahwa Tuhan lebih dekat ketimbang urat nadi kita (QS 50:16).
Pandangan yang demikian menyebabkan apa yang ada pada realitas eksternal seperti harta, jabatan dan kenikmatan dunia lainnya hanyalah ilusi belaka. Tidak heran bila sirna sudah kecintaan terhadap hal-hal tersebut.
Berpalinglah kepada Wujud Batin. Lebih mesralah dengan Tuhan ketimbang materi keduniaan yang masih bisa direkayasa. Niscaya muncul kebaikan batin dan indrawi. Aziz Nasafi menyebutkan bahwa karena dekat dengan Tuhan, manusia pasti berprilaku baik dengan makhluk lainnya. Inilah kejernihan penglihatan mata batin.
Berbeda dengan persepsi indrawi kita, secara kasat mata bisa saja memandang seseorang itu baik. Ternyata, secara batinnya mempermainkan bahkan tidak mengamini Tuhan.
Orang-orang seperti ini sekilas terlihat baik tapi ternyata mempermainkan rakyat, menyalahgunakan jabatan. Tiada yang diperbuat melainkan kesenangan menyiksa diri sendiri.
Tahapan menuju hakekat diri
Yang harus dilakukan adalah berpaling kepada penyucian diri. Karena itu kita harus mengawali dengan penyesalan atas dosa yang diperbuat, dibarengi dengan menahan diri dari berbagai hawa nafsu, tidak rakus dan senantiasa bersyukur atas apa yang didapat.
Selain itu, perlu diketahui bahwa semua yang ada adalah milik Tuhan bukan milik kita. Karena itu tidaklah patut memakai jubah arogansi. Akan semakin baik bila diselingi kesabaran dan pemasrahan kepada Tuhan atau .
Andai sifat-sifat terebut dimiliki maka betapa nikmatnya selalu diawasi oleh Tuhan dalam berbagai tindak-tanduk kita. Tiada lain karena sifat-sifat tadi mengkristal dalam kedekatan dan kecintaan kepada-Nya.
Cinta yang demikian membuat kita takut mengotori hati sendiri, apalagi orang lain, meskipun dengan sedikit noda hitam. Al-Attas berpendapat bahwa ini adalah takut karena keagungan dan kemuliaan Tuhan.
Melalui ketakuan ini, akhirnya muncul harapan dan kerinduan untuk senantiasa dekat dengan Tuhan.
Kedua sikap yang terakhir ini menyebabkan ketenangan jiwa karena mata hati telah melihat keagungan Realitas Tertinggi. Keadaan seperti ini dinamakan dengan musyahadah.Bagi Suhrawardi, musyahadah ibarat terbitnya cahaya yang menerangi jiwa dan menyebabkan hilangnya keraguan.
Akibat dekat dengan Tuhan
Secara alami, tidaklah mungkin jika manusia tidak mau dekat dengan Tuhan. Ibnu Arabi mengatakan bahwa kedekatan tersebut adalah fitrah dalam hidup. Victor Emil Frankl menyebut kedekatan ini sebagai makna tertinggi kehidupan. Dalam Danish nama-i Ala-i,Ibnu Sina menambahkan bahwa kedekatan tersebut mengakibatkan kenikmatan tertinggi.
Terkadang kenikmatan tertinggi ini memunculkan rasa terlindungi. Jangankan dekat, baru sekedar menyebut Tuhan saja sudah terasa terlindungi. Joseph Stalin misalnya, orang seatheis dia saja saat pesawatnya terguncang langsung teriak menyebut nama Tuhan. Orang atheis saja merasa terlindungi karena sedikit terbesit bahwa Tuhan itu ada. Apalagi kita yang tidak atheis, tentu bisa lebih dari itu.
Tapi sayang Stalin tidak agamis. Alhasil, Jules Archer mengklaim dia sebagai presiden yang sarkatis akibat tidak segan membunuh orang bahkan rela membunuh istri sendiri.
Nafsu kebinatangan seperti Stalin akan sirna bila dekat dengan Tuhan. Kedekatan dengan-Nya adalah pengakuan hanya Tuhanlah Wujud sebenarnya.
Ibnu Arabi menyebut pengakuan ini dengan wihdat al-wujud,yang berarti sirnanya pandangan indrawi yang merupakan ilusi dan munculnya pengetahuan (marifah)bahwa Tuhanlah Wujud segala wujud.
Pengetahuan semacam ini adalah pengetahuan tertinggi sebagaimana al-Ghazali katakan dalam Ihya Ulum al-Din.al-Raghib al-Ishfahani dan Ibnu Miskawayh menambahkan bahwa semakin tinggi marifahsemakin mulia amal kebajikan seseorang.
Ibnu Miskawayh menjelaskan bahwa orang yang sampai pada tingkatan ini akan mampu memperlakukan sesuatu dengan apa adanya, yaitu memperlakukan manusia sebagai manusia, memakai uang negara untuk kepentingan Negara.
Intinya menempatkan sesuatu pada tempatnya, tidak rakus dan berani melakukan sesuatu yang benar. Puncaknya adalah terbiasa dengan sikap adil. Bagi Miskawayh sikap ini adalah gabungan dari sikap-sikap terpuji sebelumnya.
Jika sudah adil maka kerusakan apalagi yang terjadi. Niscaya pudar sudah kezhaliman karena manusia sudah menemui hakekat dirinya.
Sumber :
Erdy Nasyrul