Posted by: bhartoyo | September 5, 2008

Pentingnya Membersihkan Jiwa

Barang siapa yang mengerjakan dosa, maka sesungguhnya ia mengerjakan untuk dirinya sendiri. Dan Allah maha mengetahui lagi Maha Bijaksana.

(QS An Nisa : 111).

Karena hati Laksana raja, sangat rentan terhadap penyakit yang terus mengintainya. Maka menjaga hati dari setiap penyakit ádalah sesuatu yang Sangat penting.

Dan penyakit yang Sangat berbahaya bagi manusia ádalah penyakit hati. Read More…

Posted by: bhartoyo | August 15, 2008

Hakikat Insan Kamil

Si hamba menyaksikan bahwa Insan Kamil adalah pertemuan di antara ketuhanan dan kehambaan. Pada Insan Kamil berkumpul pengetahuan tentang Tuhan dan pengetahuan tentang makhluk Tuhan. Insan Kamil mengenal Tuhan dalam aspek tanzih dan tasybih. Insan Kamil memperoleh maklumat Hakikat Muhammad secara lengkap dan sempurna. Insan Kamil yang memiliki ilmu dan makrifat yang sempurna. Insan Kamil yang mempunyai pengenalan yang sempurna tentang Tuhan. Insan Kamil juga mempunyai pengetahuan yang sempurna tentang apa yang Tuhan sampaikan kepada hamba-hamba-Nya. Read More…

Posted by: bhartoyo | August 9, 2008

At-tajalli

Bila tahap At-tahalli telah dilewati, maka berarti tahap berikutnya, At-tajalli ada di hadapan anda. Itulah puncak pengembaraan spiritual yang paling indah dan nikmat. Itulah tahap misteri penampakan. Itulah tahap ekstasi spiritual yang tak terlukiskan, Itulah taman indah tempat bermain jiwa-jiwa rebah urafa’.

Read More…

Posted by: bhartoyo | August 9, 2008

Takhalli, Tahalli, dan Tajalli

Manusia dilengkapi oleh Allah dua hal pokok, yaitu jasmani dan rohani. Dua hal ini memiliki keperluan masing-masing. Jasmani membutuhkan makan, minum, pelampiasan syahwat, keindahan, pakaian, perhiasan-perhiasan dan kemasyhuran. Rohani, pada sisi lain, membutuhkan kedamaian, ketenteraman, kasih-sayang dan cinta.

Para sufi menegaskan bahwa hakekat sesungguhnya manusia adalah rohaninya. Read More…

Posted by: bhartoyo | August 9, 2008

Menggapai Ampunan Allah dgn Taubat dan Istighfar

Sahabat dimanapun berada yg dirahmati Allah, kalau kita perhatikan diri kita sebagai manusia, ternyata kita tidak pernah luput dari kesalahan dan dosa. Manusia bukanlah seperti malaikat yang ma’shum dari segala kesalahan, tidak pernah sekalipun mereka meninggalkan perintah-perintah Allah ataupun melanggar larangan-laranganNya.Karena terlalu banyak dosa dan kesalahan yang kita lakukan, sudah menjadi keharusan bagi kita kaum muslimin untuk bertaubat atas segala kesalahan yang pernah kita lakukan dan senantiasa meminta ampun kepadaNya. Banyak sekali dalil yang menunjukkan kewajiban bertaubat.
Firman Allah SWT:

Dan bertaubatlah kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung. (QS. 24:31)

Read More…

Posted by: bhartoyo | July 20, 2008

Mengundang Kehadiran Malaikat Ke Rumah

Tak seorang muslimpun yang tidak menginginkan rumah mereka senantiasa dihadiri oleh para malaikat Allah dan dijauhkan dari syetan. Sebab kehadiran mereka di rumah mereka akan melahirkan aura ketenteraman dan kesejukan dan kedamaian ruhani yang mengalir di rumah itu. Kehadiran mereka akan membuat rumah kita laksana surga.Diantara para malaikat itu ada yang sengaja keliling untuk menebarkan rahmat dan kedamaian di tengah manusia sebagaiamna syetan berkeliling untuk menebarkan kejahatan di tengah mereka.
Read More…

Posted by: bhartoyo | June 25, 2008

Hakekat Diri Sejati Kita

Kita tidak hanya berupa keberadaan fisik saja, tetapi kita merupakan suatu keberadaan yang berangkap-rangkap. Kita sangatlah agung dibandingkan dengan apa yang dapat kita bayangkan mengenai diri kita. Semakin dalam kita memasuki atmosfir alam yang misteri, makin banyak yang dapat kita temukan tentang diri kita: bahwa kita berada di dalam berbagai tingkat kesadaran pada waktu yang sama ketika kita berada di sini dan saat ini dalam planet fisik ini.

Read More…

Posted by: bhartoyo | June 25, 2008

Hakekat Diri Dalam Sangkar Materialisme

Hakekat diri

Untuk mengetahui hakekat diri ini, Sufisme mengajarkan pembersihan diri yang nantinya membuka tabir hakekat Sang Pencipta. Dasarnya adalah hadits yang diriwayatkan Ali bin Abi Thalib: barang siapa mengetahui dirinya maka akan mengetahui Tuhannya.

Seseorang harus berpaling dari pandangan indrawi menuju pandangan intutif dengan mata hati. Tujuannya adalah membaca sisi-sisi metafisis manusia. Klimaksnya, manusia akan mencapai marifah, yaitu mengetahui bahwa Tuhan lebih dekat ketimbang urat nadi kita (QS 50:16).

Read More…

Posted by: bhartoyo | June 25, 2008

Tentukanlah Arah Kiblat dengan posisi Matahari

Pada pekan terakhir bulan Mei ini terbuka kesempatan bagi kaum Muslimin di seluruh wilayah Indonesia Barat dan Tengah untuk mengamati langsung arah kiblat. Ketika itu, mulai tanggal 26 sampai 30 Mei, sekitar pukul 16.18 WIB, matahari tepat di atas Makkah.

 Jika kita menghadap ke arah matahari pada waktu itu, kita menghadap ke arah kiblat. Ini mudah dipahami dengan membayangkan ada menara yang sangat tinggi menjulang dari Kabah ke langit mencapai matahari. Kesempatan mengamati langsung arah kiblat ini dapat dimanfaatkan untuk mengecek apakah arah kiblat yang kita pakai selama ini sudah tepat atau perlu dikoreksi.

  Read More…

Posted by: bhartoyo | June 17, 2008

“Aku melihat Tuhanku dengan Mata Tuhanku.”

Kata melihat disebut dengan berbagai versi dalam bahasa Arab, dan Al-Qur’an. Melihat berarti dengan mata kita. Sedangkan mata kita ada tiga. Mata kepala, mata analisa fikiran, mata hati.


Dalam konteks hubungan dengan “Melihat Allah” dan “Seakan-akan melihat Allah”, maka ada sejumlah ayat, misalnya ketika Nabi Musa as, berhasrat ingin melihat Allah. “Musa as berkata: Ya Tuhan, tampakkan diriMu padaKu, aku ingin memandangMu.” Allah menjawab, “Kamu tidak bisa melihatKu.” (al-A’raf 143).

Read More…

Categories